4 Mei 2018 aku, Seto, dan Adsel berkesempatan mengikuti 3rd Borubudur International Conference di kawasan Candi Borobudur, Magelang. Sebelum lebih jauh, mungkin kalian bertanya sebenarnya acara apa sih ini??

Borobudur International Conference adalah acara tahunan bertaraf international hasil kerjasama pengelola Candi Borobudur(PT Taman Wisata Candi) dengan berbagai kementrian terkait yang bertujuan untuk memperkenalkan Borobudur lebih jauh. Seperti yang kita tahu, Borobudur adalah candi Buddha terbesar di dunia. Tempat ini menjadi objek wisata sekaligus tempat ziarah bagi kaum Buddhis dari seluruh dunia. Namun, tahukah kamu bahwa Borobudur bukan hanya bangunannya saja, melainkan merupakan suatu komunitas yang hidup yang berkaitan erat dengan kemasyarakatan. Apalagi, 2018 adalah tahun politik di Indonesia dan ditandai dengan mulai marak perbedaan kelompok sesuai pilihannya masing-masing. Maka, tahun ini BIC mengangkat tema “Borobudur as an Inspiration of Humanity and Civilization” yang artinya “Borobudur sebagai inspirasi dari kemanusiaan dan peradaban”.

Borobudur International Conference menghadirkan beberapa speaker (narasumber) dari berbagai kalangan mulai dari budayawan sampai tokoh agama. Ada beberapa sub-tema yang terbagi menjadi sesi-sesi yang dipimpin oleh seorang chairperson(moderator diskusi). Materi dibawakan dalam bahasa Inggris. Di akhir sesi diadakan sesi tanya jawab.  Ayo kita simak satu-satu yuk…

SUBTEMA 1

“The challenges of Sustaining Heritage and Protecting local culture in plural societies”

Speaker: Diane Butler, Ph.D & Dr. Hastho Bramantyo

Bagaimana cara mempertahankan warisan budaya dan kebudayaan lokal dalam masyarakat yang berbeda ini? Indonesia terkenal dengan kekayaan budayanya. Bagaimana tidak? Terdapat 17.508 pulau, 1.340 suku bagsa , dan lebih dari 300 kelompok etnik. Setiap suku bangsa punya bahasa, adat, dan pakaian khas masing-masing. Isu perbedaan(pluralisme) mulai mencuat belakangan ini.

PLURALITY IS A NECESSITY

Banyak orang mengagumi Borobudur dari segi arsitekturnya. Lebih jauh, Borobudur perlu dipahami sebagai suatu komunitas yang hidup berakar di masyarakat yang mampu mendorong terjadinya dialog antar budaya. Borobudur menjadi tempat pagelaran seni dari berbagai kelompok seni. Salah satu pagelaran seninya yaitu Taman Srawung Seni Segara-Gunung. Dari seni itulah, masyarakat yang berbeda-beda berkumpul dan dipersatukan.

SUBTEMA2

“Humanity as an aspect of living in tolerance”

Speaker: Dr. G. Budi Subanar, SJ & Drs. H. Sukriyanto, M.Hum

Ada hal yang menarik yaitu Romo Banar(tokoh Katolik) dan H. Sukriyanto(tokoh muslim) membahas tentang kemanusiaan dan toleransi. Tidak ada diskusi mengenai sudut pandang dari masing-masing agama, melainkan dari sudut pandang kemanusiaan. Isu toleransi kembali diangkat dalam sesi ini.

Perlu dipahami bahwa Candi Borobudur(candi Buddha terbesar) berdiri di wilayah kabupaten Magelang yang notabene mayoritasnya adalah muslim. Disinilah toleransi mengambil peranannya. Borobudur menjadi objek wisata bagi semua orang tanpa terkecuali. Borobudur menjadi bukti toleransi antar umat beragama. Diharapkan masyarakat dapat belajar dari pengalaman berwisata ke Borobudur. Bukan hanya membawa pulang foto bagus, melainkan membawa pulang pesan perdamaian dan kemanusiaan yang didapat dari berbagai kisah dibalik relief-relief di Borobudur.

 SUBTEMA3

Heritage, humanity and identity in the digital era

Speaker: I Made Andi Arsana, PhD & Yenny Wahid

Objek sejarah yang dalam hal ini Borobudur dihadapkan pada 2 pesoalan di era modern ini, yaitu:

  1. Penyebarluasan informasi terkait nilai-nilai yang terkandung dalam sejarah dan perkembangan Borobudur
  2. Borobudur rawan mengalami kerusakan fisik (bencana alam)

Adapun kedua permasalahan diatas dapat diatasi dengan adanya teknologi Geospasial. Teknologi ini dapat menampilkan suatu replika virtual dari objek sejarah. Ini dapat menjadi pembelajaran yang efektif bagi pelajar di era modern ini. Ditambah lagi dengan adanya Google Earth yang memungkinkan kita untuk berkeliling borobudur secara nyata tanpa perlu benar-benar pergi ke sana. Teknologi memudahkan penyebarluasan informasi, bukan sekedar sejarahnya melainkan pula nilai-nilainya.

WE PASS VALUES, NOT THE HISTORY

Apakah dengan adanya teknologi seperti itu, pengunjung Borobudur akan berkurang?

Jumlah wisatawan/tahun:

2015 –> 3,5 juta wisatawan

2016 –> 3,7 juta wisatawan

2017 –> 3,8 juta wisatawan

Bisa dilihat dari data tersebut bahwa setiap tahunnya, jumlah pengunjung Borobudur mengalami peningkatan. Mengapa? Borobudur tidak semata-mata menawarkan keindahan dan kemegahan arsitekturnya, melainkan juga berusaha memberikan wisata rohani bagi setiap wisatawan yang berkunjung. Ada suatu daya pikat yang membuat pengunjung akan kembali dan kembali lagi ke Borobudur untuk merasakan kedamaian, kedalaman hati, dan kehangatan yang terwujud dalam kearifan lokalnya. Itulah mengapa teknologi bukanlah suatu penghalang melainkan pendukung dalam penyebarluasan informasi. Dengan mengetahui informasinya, orang juga akan semakin tertarik untuk berkunjung ke sana juga.

SUBTEMA 4

“The roles of cultural heritage and collective memories for humanity and civilization”

Speaker: His Eminence Kyabje Dagri Rinpoche

Peranan warisan budaya dalam membangun kemanusiaan dan peradaban yang luhur di Indonesia. Borobudur sebagai warisan budaya menyimpan values yang seharusnya dapat dipetik oleh masyarakat Indonesia, yaitu perdamaian dan cinta kasih. Bagaimana tidak? Borobudur menjadi sebuah monumen toleransi dimana umat dari setiap agama berkumpul untuk sama-sama menikmati keindahan, kehangatan, dan kedamaian Borobudur dari dekat. Pesan perdamaian dan cinta kasih sangat relevan bagi kehidupan bangsa Indonesia. Cinta kasih tak mengenal batasan agama, suku, maupun budaya. Tugas kita yaitu menjaga perdamaian di Bumi Pertiwi dengan berbuat kasih.(CEL)

borobudur international conference

 

Sebarkan Kebaikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *