“Bagaimana sih pengalaman di seminari? Apa aja suka-dukanya?’

13 juli 2017, terakhir kali kuinjakkan kaki di Cikarang. Hari itu, aku dan keluarga pergi ke magelang untuk mengantarkanku ke seminari. Kami menyempatkan untuk menginap di sebuah losmen sebelah Gua Maria Kerep Ambarawa(GMKA). Ceritanya sih liburan dulu bersama keluarga, keliling-keliling Magelang, seperti Alun-alun, Pecinan, Gereja Ayam, dan Puthuk Setumbu.

Masuk ke SeminarI

16 Juli 2017, tibalah waktunya aku masuk ke kawah candradimuka, Seminari mertoyudan. Aku melakukan daftar kehadiran di depan lobby seminari. Ya, merekalah para ANGELUS, panitia penerimaan seminaris baru. Andreas, mengantarkan kami sekeluarga ke Bangsal Kaca untuk selanjutnya mengurus beberapa berkas, menerima name tag, menyortir barang, dan mendaftarkan alergi atau penyakit. Setelah itu, Kevin mengantarkanku ke dormit untuk menaruh pakaian pribadi di loker. Aku langsung memasang sprei dan sarung bantal di tempat tidurku. Buku-buku ditaruh di atas meja. Aku masuk ke kelas KPP1. Tak lupa ember, alat mandi, dan mug ditaruh di tempatnya masing-masing. Selesai beres-beres, aku diajak makan pizza sekalian membeli detergen yang lupa kubawa dari rumah.

Waktu baru menunjukkan jam 1 siang, aku menyuruh Papa, Mama, dan Koko untuk pulang saja karena semua sudah lengkap. Aku berpamitan dengan mereka semua. Tak ada rasa sedih perpisahan waktu itu, “40 hari lagi bakal ketemu lagi kok”,pikirku waktu itu. Aku bertemu temanku dari Ciledug yang kukenal dekat waktu PSB, namanya Gilvan. Ia mengajakku ke Indomaret untuk beli minum. Keluargaku belum beranjak dari parkiran. Kakakku yang melihatku pergi pun berteriak, “Dadah, dede!” Aku pun menjawab, “Ya, hati-hati.” Aku pun dengan santainya berjalan keluar bersama Gilvan. Ya, dialah teman pertamaku di seminari.

Pekan Orientasi Seminaris(POSE)

Hari pertama diisi dengan perkenalan satu sama lain. Untuk pertama kalinya ke-66 seminaris Medan Pratama angkatan 106 dikumpulkan bersama-sama di Bangsal Kaca. Kami pun saling berkenalan satu sama lain. Kami satu angkatan dibagi menjadi 8 bawil(Basis Wilayah). Aku masuk bawil 6. Tak lupa juga berkenalan dengan para Angelus yang adalah angkatan 105. Setiap angkatan dibimbing oleh seorang pamong dan sub-pamong. Pamong kami adalah Rm. Sani SJ, Rm. Suryo Pr, dan Fr. Eko MSF.

Hari kedua, kami disuruh memakai baju OSIS SMA untuk menghadiri Lectio Brevis(Bacaan Singkat) dari Rm. Gandhi, Rektor Seminari Mertoyudan. Saat itu aku bingung apa itu Lectio Brevis. Setelah bertanya, Lectio Brevis berarti  refleksi yang dijadikan sebagai bahan permenungan untuk didalami di tahun ajaran baru ini. Malam harinya aku merasa kesulitan tidur karena belum terbiasa tidur diatas matras keras, tak ada lagi kasur empuk, AC, dan bantal guling yang nyaman dipeluk. Kalau tidur terlentang, rasanya tulang ekor mau patah karena beradu dengan kerasnya matras.

Hari ketiga, kami menghadiri Lectio Brevis dari Rm. Alis, Direktur Seminari. Setelah itu ada presentasi keministeran dari para staff seminari. Aku semakin mengenal tugas-tugas para staff di seminari. Setelah itu, aku dan teman-teman bawil 6 saling berbagi pengalaman dan refleksi masing-masing tentang materi yang disampaikan Rm. Alis. Di seminari, kami semua punya tanggungjawab masing-masing. Setiap seminaris punya ‘jabatan’ yaitu sebagai bidel(Bidang Pelayanan) di setiap medan. Aku menjadi bidel Valet. Valet itu UKS-nya seminari. Tugasku yaitu mengurusi teman yang sakit dan menyediakan obat-obatan. Aku pun mulai akrab dengan sebuah makhluk bernama ‘tinggi’. Jika kalian tidak tahu, tinggi itu semacam kutu gatal yang sangat kecil yang berkembangbiak di tempat lembab seperti di bawah matras. Beberapa temanku sudah terkena tinggi. Cara mengobati gatal yang paling efektif yaitu dengan tidak menggaruknya, cukup ditepuk-tepuk saja.

Hari keempat, kami menghadiri Lectio Brevis ketiga dari Rm. Tri Wahyu, Pamong umum seminari. Hari ini pertama kalinya kami olahraga bersama satu angkatan, sering disebut Ormed(Olahraga Medan). Kami juga mengikuti completorium(ibadat malam). Lagu-lagunya asing di telingaku sehingga aku tidak bisa menyanyikannya.

Hari kelima, kami sudah mengikuti KBM(Kegiatan belajar mengajar). Disamping pelajaran SMA umumnya, ada beberapa pelajaran khusus seminari seperti Sejarah Gereja, Liturgi, Pengantar Kitab Suci, Bahasa Latin,dll. Malamnya, para angelus memperkenalkan kegiatan baru yaitu Konferensi Medan(Konmed). Isinya yaitu membahas masalah-masalah angkatan yang perlu diperbaiki, khususnya menjaga keheningan(Silentium) dan etika makan di refter(ruang makan) seminari.

Hari keenam, aku berkeliling perpustakaan seminari yang merupakan 10 besar perpustakaan SMA terbaik nasional. Kejadian menarik terjadi saat malam hari.Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku teringat akan keluargaku di rumah. TIba-tiba saja perasaan kangen itu muncul setelah 6 hari berpisah dengan mereka. Seketika itu juga, kaki dan tanganku keluar keringat. Rasanya ingin pulang saja dan bertemu mereka. Sejenak teringat lambaian tangan dan ucapan perpisahan dengan kakakku. Malam itu menjadi hangat karena air mata yang merembes tak terbendung. Mengapa waktu itu aku menyuruh mereka pulang? Ya, aku menyesal karena tidak memanfaatkan waktu dulu bersama mereka. Belum ada satu minggu, kenapa terasa lama sekali?

Hari ketujuh, aku diingatkan untuk jangan lupa bahagia. Ya, perasaan kangen itu wajar dan manusiawi. Setelah menjalani seminggu pertama yang terasa berat bagiku, Tuhan seakan menjawab keresahanku. Pada malam minggu pertama di seminari ini, kami  bersama-sama dengan para angelus, bernyanyi dangdut dan joget bersama di Ruang Rekreasi MP. Malam itu ditutup dengan nonton film “Wonder Woman”. Tuhan menguatkanku lewat berbagai cara. Rasa kangen bukan penghalang untuk berformasi di Seminari.

PEKAN SEJARAH

POSE(Pekan Orientasi Seminaris) telah aku lalui bersama teman-teman seangkatan. Kami masih harus menjalani Pekan sejarah bersama kepamongan. Kami diajak mengenal seminari lebih jauh dengan belajar tentang sejarah seminari. Kami mendaki bukit Tidar yang terletak dekat dengan seminari, setelah itu berenang bersama di Kolam Renang Pisangan. Seru banget… Kami juga berziarah jalan kaki ke makam Rm. Y.B. Prennthaler(Mrennthaler). Ditemani para angelus, kami berkeliling lingkungan sekitar tembok seminari. Tak lupa juga mengunjungi paroki sebelah, Paroki St. Yusuf Pekerja Mertoyudan. Baru masuk seminari saja, kami sudah disambut dengan kegiatan besar yaitu Asian Youth Day(AYD) 2017. Seminari menjadi salah satu tempat exposure bagi para peserta AYD.

Masih kurang lebih 30 hari menuju HOT(Hari Orang Tua). Aku dan teman-teman bawil 6 sudah tidak sabar menunggu HOT. “1 minggu pertama saja rasanya seperti 1 bulan,” kata temanku, Alief, Setiap kumpul, kami selalu membahas, apa yang hendak dilakukan saat HOT nanti. Pokoknya saling menguatkan satu sama lain. Di tengah jalan, seorang temanku memutuskan untuk keluar dari seminari. Aku kaget sekaligus sedih waktu itu. Kejadian ini malah memberiku semangat untuk terus berjuang beradaptasi dengan rutinitas di seminari yang padat.  Kami juga harus menyiapkan tampilan untuk Hari Orang Tua nanti. kegiatan padat dan makan teratur(belum boleh ngemil) membuat berat badanku turun 8 kilo. Waw..

HARI ORANG TUA (HOT) MP 106

20 Agustus 2017, tibalah waktu kami semua menyambut orangtua kami masing-masing. Pagi-pagi kami sudah bersiap di ruang Gamelan untuk menyambut kedatangan orangtua kami. Dari kejauhan sudah kulihat kakakku dan kedua orangtuaku datang. Aku tidak berani menatap lagi karena kutahu kalau melihat mereka, aku keburu nangis duluan, nanti tidak fokus main gamelannya. Setelah selesai bermain, aku baru turun dan mereka langsung menghampiriku. Ya, kami berempat menangis bahagia. Perjuanganku selama 36 hari ini terbayarkan sudah. Aku kembali bertemu dengan mereka yang kusayangi. Aku kemudian mengantarkan mereka ke GOR Laudato Si, tempat acara HOT berlangsung. Hari itu, misa dipimpin Uskup Agung Semarang, seminari mertoyudanMgr. Robertus Rubiatmoko karena bersamaan dengan peresmian GOR Laudato Si.

Angkatan kami menampilkan sebuah lagu yang berjudul “Panggilan Tuhan”. Satu sesi yang paling kuingat adalah pemberian bunga kepada orangtua kami masing-masing. Saat itu suasana langsung pecah. Iringan musik menyingkap air mata kami semua. Terima kasih papa dan mama yang telah merawatku dan membesarkanku. Sekarang, anakmu ini akan menjalani formatio sebagai calon imam.

Tema HOT kami adalah “Metamorfosis”. Seperti halnya ulat yang bermetamorfosis menjadi kupu-kupu, begitupun kami para seminaris yang berusaha bertransformasi menjadi pribadi baru dalam Tuhan. Setelah berbagai tampilan dan pertemuan dengan pihak persekolahan, kami diberi waktu bebas sampai jam 4 sore. Aku sangat bersyukur karena boleh melepas kangen dengan mereka. Aku membacakan refleksiku mulai dari hari pertama sampai sebelum HOT. Sungguh waktu berjalan dengan sangat cepat. Tak terasa sudah jam 4 sore. Keluargaku harus kembali ke Cikarang. Aku berusaha tetap kuat walau perpisahan itu berat. Air mata bukan tanda kesedihan, melainkan tanda kebahagiaan mendalam yang sangat kusyukuri.(CEL)

Kala kudengar penggilan Tuhan, kupersembahkan SELURUH hidupku…

Sebarkan Kebaikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *