Peregrinasi masih terdengar asing di telinga banyak orang. Pada dasarnya peregrinasi adalah perjalanan panjang dengan berjalan kaki, banyak dilakukan oleh para calon rohaniwan Katolik. Seminari yang adalah salah satu lembaga pendidikan calon imam yang juga melaksanakan peregrinasi ini setiap tahun. Komunitas Seminari Mertoyudan setiap tahunnya berjalan dari Smeinari menuju Gua Maria Sendangsono yang berjarak kurang lebih 30 Km. Hmm..Yakin tuh kuat? Gak capek apa? Yuk, ikuti ceritanya…

            Pukul 13.30, kami sekomunitas sudah berkumpul di depan Kapel Besar untuk menerima berkat sebelum perjalanan. Setiap seminaris sudah dibekali dengan snack, berupa roti, air minum, kacang, dan yang unik yaitu gula Jawa, yang akan menjadi sumber tenaga sekaligus permen sepanjang perjalanan.

•          PERJALANAN PERGI MENUJU SENDANGSONO

            Rm. Leo Agung Sardi, memberikan berkat kepada kami semua. Setiap medan(angkatan) berjalan berurutan, MM, MP,MT, dan MU sang “sapu jagad”. Perjalanan pun dimulai. Baru kurang lebih 3 Km perjalanan, aku baru ingat bahwa celana panjangku ketinggalan di Seminari. Seorang teman MU, Guntur juga mengalami yang sama denganku. Alhasil, kami berdua kembali ke Seminari naik angkot. Kami harus “remidial” peregrinasi. Kami pun menjadi yang paling belakang dari rombongan.

            Ini adalah pengalaman peregrinasiku yang kedua. Setiap jalan yang kulewati nampak tidak asing bagiku. Dari seminari belok kanan terus sampai ketemu pertigaan Blondo, belok kanan. Di muka jalan terlihat gapura besar bertuliskan “Kawasan Wisata Candi Borobudur”. Gapura ini menandai jalan yang tak kutahu namanya, aku menyebutnya “Jalan Tak Berujung”. Seperti namanya, jalan lurus ini seperti tak ada ujungnya, panjang banget.

            Jalan ini terbagi menjadi dua yaitu jalan pedesaan dan jalan pemerintahan daerah Kab. Magelang. Di sepanjang jalan, kami seakan ditawarkan banyak godaan berupa tukang makanan, Soto Seger, bakso, mi ayam, es tebu, dll. “Hmm…panas-panas gini enaknya minum es tebu nih…” pikirku dalam hati. Kami ditawari kebebasan, tapi kembali lagi ke tujuan utamanya yaitu demi ujub/intensi yang diperjuangkan. Setiap orang punya intensinya masing-masing. Aku ingin mencoba menahan diri dari godaan-godaan itu. Peregrinasi jika dipahami sebagai kesempatan jalan-jalan semata(rekreatif), jelas adalah pengertian yang salah. Peregrinasi adalah perjalanan rohani untuk merefleksikan hidup sendiri dengan tujuan menemukan apa yang sebenarnya Tuhan kehendaki bagiku.

            Jalan tak berujung akhirnya menemukan ujungnya, pertigaan Mendut. Kami disuguhkan pemandangan perkebunan yang asri. Cuaca mulai mendung tapi awan masih malu menjatuhkan butirannya. Aspal jalan yang masih agak basah tidak menyurutkan langkah kami. Bahkan beberapa teman lain ada yang dengan sengaja menginjaknya. “Anget-anget gimana gitu rasanya” ujar mereka. Peregrinasi dimaknai secara berbeda-beda, ada yang tidak pakai alas kaki(alias nyeker), jogging sepanjang perjalanan, tidak mau berbicara apa pun(Silentium), dan masih banyak lagi. Ya, setiap orang punya ujub-ujub yang diperjuangkan selama peregrinasi ini, asalkan tidak membahayakan kesehatan, hihihi…

            Setelah pemandangan perkebunan, sekarang giliran hamparan sawah menanti di kanan-kiri jalan. Ya, pemandangan pedesaan yang masih asri, jarang kutemui di perkotaan. Hari sudah mulai gelap, gerimis halus turun menerpa. Namun tak lama, berhenti kembali. Di tengah terang bulan dan bintang-bintang, kami menyusuri jalan-jalan sepanjang daerah Kali Bawang. Jarang kutemui penerangan/lampu, sinar rembulanlah yang menerangi jalan kami. Bermodalkan senter yang kubawa, aku bersama Rm. Yuppy berjalan bersama. Ia juga kelelahan waktu itu, tak kuat mengikuti Romo Rektor yang sudah beberapa meter di depan tanpa senter satupun. Kaki yang sudah lemah karena pegal harus tetap melangkah. Ingat akan satu tujuan, Gua Maria Sendangsono. Itulah yang menguatkan kami.

·         TIBA DI PROMASAN

            Sekitar pukul 19.30, akhirnya kami tiba di Pastoran Gereja Promasan. Disinilah kami beristirahat sejenak, makan, mandi, dan beres-beres setelah perjalanan sekitar lima setengah jam yang melelahkan.

            Belum selesai di situ, kami masih harus mengikuti Jalan Salib untuk dapat sampai di Gua Maria Sendangsono. Aku, Iddo, dan Willy melakukan Jalan Salib bersama. Sensasi yang berbeda kurasakan saat melakukan jalan salib di Sendangsono karena jalannya yang menanjak dan jauh, membuat kami semakin menghayati sengsara Yesus.

            Sampailah kami di pemberhentian ke-14 yang berarti kami sudah sampai di area Gua Maria Sendangsono. Aku bersiap mengikuti misa. Duduk di bangku pendek(dengklik) sungguh mengganggu karena lutut yang sakit kalau ditekuk, mau patah rasanya, hihihi… Aku berdoa semalam-malaman di sana, mendoakan setiap ujub doaku dan tak lupa orang-orang terdekatku yang membutuhkan doaku. Keheningan malam menemani doaku disana. Suatu kesempatan yang sangat indah bagiku dapat menutup rangkaian Bulan Rosario di Sendangsono. Bunda Maria, sertailah perjalananku kembali ke Seminari.

·         PERJALANAN KEMBALI KE SEMINARI

            Tidak semua dari kami pulang jalan kaki kembali, hanya beberapa orang yang sudah izin ke pamong(Romo pembina setiap angkatan), salah satunya aku. Pukul 03.00, Aku bersama lima teman lain, Satria, Vincent, Tyas, Joko, dan Albert, berjalan kembali ke Seminari. Kaki yang sudah pegal sekali tak menghalangi niatku untuk tetap berjalan kembali. Di tengah perjalanan, kami memilih jalan lain yang katanya lebih dekat.

            Untung seorang temanku membawa obat pegal-pegal. Aku pun langsung mengoleskannya di bagian lutut. Tuhan memberikan penolong-penolongnya dimana pun kita berada yaitu lewat kehadiran teman-teman di kanan-kiri kita. Tuhan tidak akan meninggalkan kita, bahkan dalam keadaan terpuruk dan tak ada harapannya sekalipun.

·         JALAN TAK BERUJUNG

            Kami harus melewati jalan tak berujung kembali. Pada perjalanan pulang, jalan ini terasa lebih jauh dan lebih tak berujung. Awalnya, aku selalu berada di belakang rombongan karena kakiku yang sakit. Seketika itu, aku ingin membuktikan bahwa pikiran dapat mengalahkan rasa sakit yang ada. Aku pun berusaha mengubah Mind-set ku dengan mengabaikan rasa sakitnya, mencoba berjalan seperti biasanya. Alhasil, aku dapat memimpin di bagian depan. Rasa sakit hilang sudah seiring berjalannya waktu. Aku berusaha menempatkan tujuan 5 cm di depan mata, dengan berpikir bahwa tujuan sudah dekat dan kami pasti bisa sampai.

            “Kayaknya di depan udah gapuranya tuh, semangat teman-teman!” Sahutku penuh semangat waktu itu. Namun, gapura tidak kunjung memperlihatkan batang hidungnya, sedang kaki meronta-ronta: “Kapankah kami tiba di pantai tujuan?” Aku melatih diri untuk konsisten dengan jalan yang telah kupilih, tak ada kata mundur atau menyerah, semua kujalani dengan ketaatan pada sang waktu.

·         AKHIR PERJALANAN

            Pukul 9.15 pagi, tibalah kami di ujung jalan itu. “Akhirnyaaaa…” sahutku. Ada kepuaasan tersendiri bagi kami karena mampu melewati jalan tak berujung itu. Namun, tanjakan panjang masih menunggu di depan. Untuk terakhir kalinya, kukerahkan semua tenaga yang masih tersisa untuk melanjutkan perjalanan sedikit lagi. Selama berjalan, aku membayangkan Yesus yang harus memanggul salib menuju Bukit Golgota. Sakitku belum seberapa dengan penderitaan-Nya. “Kuserahkan segala sesuatunya ke dalam tangan-Mu, segenap jiwa dan raga ini,” ungkapku dalam hati. Dalam penderitaanku, kutemukan betapa tak berdayanya aku, semua semata-mata berkat rahmat-Nya.

            Seluruh penantian dan lelah ini terbayar sudah setelah kupijakkan kakiku di pintu gerbang Seminari. Mulut tak sanggup berkata-kata selain mengucap syukur dan membuat tanda Salib. Pukul 9.45 kami tiba dengan selamat di Seminari. Inilah akhir perjalanan kami berenam. Dalam keragu-raguan dan ketidakpastian, kami melangkah bersama melewati semua tanjakan, jalan berkelok-kelok, dan juga jalan tak berujung. Peregrinasi kumaknai sebagai perjalan penuh syukur, belajar untuk menyadari semua rahmat-Nya sekecil apapun. Semoga Tuhan menyertai kami selalu dalam melanjutkan perjalan hidup kami, menapaki jalan panggilan-Nya. (EDG

          

Sebarkan Kebaikan: