Seluruh peserta Teris Regio Jawa berfoto di desa Ciboleger, Rangkas Bitung

“Berbicara dan memahami keberagaman merupakan kebutuhan yang aktual bagi Gereja saat ini di masa depan, secara khusus, bagi para seminaris yang merupakan para calon pemimpin Gereja di masa mendatang,” ungkap RD. Dionnysius Y. Manopo, ketua panitia Teris Regio Jawa 2019. Tak mengherankan bila selama dinamika empat hari tiga malam, para seminaris diajak untuk merasakan dan hidup dalam keberagaman.

Dalam upacara penyambutan, para seminaris disuguhkan dengan tampilan tarian khas suku Sunda. Tak memerlukan waktu lama bagi para seminaris untuk saling mengenal. Setiap tenda terdiri dari seminaris yang berasal dari seminari berbeda. Setiap seminari maju ke depan dan memperkenalkan perwakilannya masing-masing. Tak lengkap kalau berkunjung ke gua Maria tapi belum doa rosario. Bunda Maria, sertailah anak-anakmu yang ingin ikut jalan Puteramu ini…

ACARA OUTING

Keesokan harinya adalah waktu untuk outing (berkunjung ke luar). Mereka diajak untuk masuk dalam dimensi ekspierensial  ̶  mengalami langsung keberagaman tersebut. Pukul 9 pagi, para seminaris berangkat menuju tempat suku Baduy.

Para seminaris dibekali dengan pertanyaan-pertanyaan yang membantu untuk belajar membangun komunitas plural yang baik dan mempelajari kekhasan suku Baduy yang masih dijaga sampai sekarang.

Selain itu, para seminaris juga berkunjung ke Pesantren Manahijussadat, Cibadak, Rangkas Bitung. “Pendidikan di pesantren menekankan pada aspek pembentukkan akhlak dari pada sekedar ilmu pengetahuan sebab itulah yang dibutuhkan bangsa ini kalau tidak mau ‘sakit’,” ujar Kepala Pesantren. Dalam diskusi, beberapa pertanyaan diajukan dari para santri dan beberapa seminaris. Bukan untuk menjelek-jelekkan, melainkan agar dapat mengerti dan memahami perbedaan yang ada.

DIALOG INTER-RELIGIUS

Setelah kemarin mengalami perbedaan budaya dan agama, para seminaris mendapat input (masukan) tentang dialog interreligius.

“Gereja masih terlalu mengambil jarak dengan agama dan tradisi daerah. Inilah mengapa Gereja harus membuka diri yaitu lewat dialog antar agama. Pada akhirnya, kita semua berharap untuk menjadi Gereja yang mengakar,” ujar Rm. Dion, Pr.

Perlu disadari bahwa dialog bukan merupakan tujuan, melainkan sebuah media pewartaan Injil. Pada dasarnya, semua orang Katolik memegang paham Kristosentris Inklusif. Artinya, orang Katolik punya kewajiban untuk mewartakan Kristus tanpa mengurangi penerimaan tentang segala yang baik, benar, dan suci dalam agama lain.

Terdapat enam seminari di Pulau Jawa, antara lain Seminari Wacana Bhakti (Jakarta), Seminari Mertoyudan (Magelang), Seminari Cadas Hikmat (Bandung), Seminari Garum (Surabaya), Seminari Marianum (Probolinggo), dan Seminari Stella Maris yang menjadi tuan rumah Teris 2019 ini.

Masing-masing Seminari menampilkan budaya asli daerah masing-masing dalam malam keakraban. Seperti contohnya, Seminari Garum menampilkan kesenian Jaranan khas Surabaya. Perbedaan budaya menjadikan malam itu sungguh berwarna dan berkesan. Itulah malam yang ingin selalu dirasakan oleh bangsa Indonesia, malam di mana perbedaan menjadi pemersatu, bukan sarana provokatif untuk memecah belah bangsa. Plural Is Me!

 

 

Christofer Edgar Liauwnardo

Sebarkan Kebaikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *