Gereja St. Antonius Purbayan

Anggota koor dan orkestra Seminari saat bertugas di Gereja St. Antonius Purbayan

Aksi panggilan menjadi satu kegiatan yang rutin diadakan setiap semester oleh Seminari Mertoyudan. Sebagai sebuah instansi pendidikan calon Imam tingkat menengah, seminari punya tanggung jawab untuk memperkenalkan panggilan hidup Imamat yang sedang ditempuh para seminarisnya, salah satunya lewat pengembangan humanioranya, Koor dan Orkestra Seminari Mertoyudan. Pada Sabtu-Minggu (7-8/9/2019) lalu, koor (Canis Choir)  dan orkestra (Canisii Seminarium Symphony Orchestra) bertugas mengiringi jalannya misa di Gereja Purbayan, Solo.

Selain sebagai media promosi panggilan, kesempatan ini juga digunakan untuk penggalangan dana pembinaan calon Imam. Penggalangan dana diselenggarakan dengan cara yang elegan, yaitu lewat penjualan merchandise Seminari yang bertemakan Katolik, Koran Jendela (Koran Seminari), buku karangan Rektor Seminari Rm. Sardi, SJ. Selain itu, disediakan juga amplop dan mesin EDC yang memudahkan pengiriman donasi.

Perjalanan dari seminari menuju Paroki Purbayan cukup jauh, sekitar 4 jam perjalanan. Sekitar pukul 3 siang, kami langsung menata stand part dan check sound. Betapa kagetnya aku ketika menyadari bahwa map yang berisi partitur lagu tertinggal di meja belajarku. Hadeh…. dasar teledor, edgar…

Aku dan Michael, partner violin II-ku, langsung menuju tukang fotocopy terdekat untuk mencopy partitur milik teman lain. Kebetulan Michael juga ingin membeli map untuk menyimpan partitur-partitur lagunya. Di balik setiap keteledoran, ada makna dan rencana-Nya yang kadang tidak kusadari.

Setelan kasual lengkap dengan jas biru donker dan dasi merah sudah melekat rapi. Kusiapkan biola (violin – Bhs. Inggris), jangan lupa diberi rosin agar keset dan kencang salahnya suaranya. Dalam orkestra, aku memegang alat musik biola (II) yang baru kugeluti semenjak masuk seminari. Ya, masih amatiran juga sih… tapi kami punya prinsip: “gaya dulu, skill belakangan” hahahah….

Seminari bertugas sebanyak empat kali. FYI, kami sudah berlatih sejak satu bulan yang lalu dalam memersiapkan aksi panggilan di Purbayan. So, kami harus menampilkan yang terbaik tentunya. Walau masih ada saja kesalahan, tapi secara keseluruhan aku puas dengan penampilannya.

Malam minggu di Kota Solo

Kapan lagi bisa malmingan di kota Solo? Pertanyaan inilah yang mendorong kami untuk menjelajah sekitar paroki Purbayan. Kebetulan malam itu sedang diadakan SIPA 2019, semacam konser budaya  yang dibawakan oleh artis-artis dalam dan luar negeri yang diadakan di Benteng Vastenburg, Solo, sekitar 300 meter dari paroki. Di luar tembok benteng, berjejer rapi para penjual nasi kucing (angkringan) dan penjual baso lapis telor yang katanya hits banget di Solo.

Jadilah aku bersama teman-teman lain menikmati tampilan-tampilan di sana. Bahkan, ada oppa-oppa korea yang hadir membawakan lagu-lagu hits dari BTS. Namun, kami harus ingat waktu karena besok harus bangun pagi lagi untuk mengiringi misa. Kami beristirahat di aula SD Kanisius yang terletak di belakang gereja.

FRIENDS

Begitulah kehidupan seminaris, penuh dengan kejutan. Mengapa? Ya, aku dipertemukan dengan teman-teman semasa SMP-ku yang sedang menempuh studi di Ursulin Solo. Setelah misa Minggu pagi, kami jalan-jalan ke Pasar Gede yang terletak tak jauh dari paroki. Katanya di sana ada babi (b2) yang enak. Dengan sepuluh ribu rupiah, aku sudah mendapatkan sebungkus babi panggang lengkap dengan kuahnya yang menggiurkan (jadi inget babi kecapnya Seminari yang legend, hehehehe…)

Setelah dari Pasar Gede, kami tancap ke Mall Solo Paragon. Kata orang Solo, ini mall terbesar dan paling fancy di Solo. Ditemani beberapa loyang pizza beda varian, nostalgia terjalin rapi dalam rangkaian obrolan yang kami lakukan. Kedekatan yang lama tak kurasakan dengan mereka, jadi ingat masa-masa SMP dulu (cieeee flashback..).

Masih ada satu misa lagi, yaitu misa Minggu sore. Kali ini aku kedatangan seorang teman misdinar yang sekarang sedang kuliah di ATMI Solo.

Di mana ada pertemuan, di situ ada perpisahan. Itulah hukum alam yang harus kutepati. Jika tidak demikian, lantas apa yang membuat pertemuan itu bermakna?

Support datang dari siapa saja, tak terkecuali teman-teman lamaku. Harapan membuahkan sukacita dan semangat dalam menapaki jalan panggilan. Sungguh, aku merasa diteguhkan lewat pertemuan dengan mereka. Pada akhirnya, kami harus pulang dan kembali menjalankan perutusan kami masing-masing di tengah dunia, mewartakan kabar sukacita Injil kepada orang-orang di sekitar. (EDG)

Sebarkan Kebaikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *