Apa itu seminari mertoyudanApa itu Seminari?

Banyak orang belum mengetahui apa itu seminari. Pernah seorang ibu bertanya kepadaku dimana aku bersekolah. “Hah dimana? Sri Menari?” si Ibu kaget. “Bukan, Bu. Seminari…” jawabku. Bahkan umat Katolik sendiri masih ada yang belum tahu tentang seminari.

Saya akan menjelaskan secara lengkap terkait apa itu seminari sehingga kalian dapat lebih mengenal apa itu seminari secara mendalam.

Seminari berasal dari bahasa Latin Seminarium yang berarti tempat persemaian. Seminari berarti rumah pendidikan dan pembentukan(formatio) para calon imam Gereja Katolik masa depan. Siswa yang menjalani penyemaian di seminari disebut seminaris. ibarat benih-benih yang harus disemai agar dapat bertumbuh menjadi seorang imam yang siap diutus ke tengah masyarakat. Para Seminaris berusaha untuk seimbang dalam hidup kerohanian(Sanctitas), kebersihan(Sanitas), dan kecerdasan/kognitif(Scientia).

Seminari Menengah St. Petrus Canisius Mertoyudan adalah satu dari sekian banyak seminari menengah di Indonesia. Pelindung seminari kami adalah St. Petrus Canisius, sering disebut Canisii Seminarium(CS). Mertoyudan sebenarnya bukan nama seminarinya melainkan merujuk pada letak seminari yang berada di Mertoyudan, Magelang.

Kenapa disebut seminari menengah? Seminari menengah pada dasarnya sederajat dengan SMA yang menerima lulusan dari SMP. Setelah lulus, seorang seminaris akan mendaftar ke seminari tinggi dan sudah disebut sebagai seorang frater. Seminaris adalah para remaja laki-laki yang berusaha menanggapi panggilan Tuhan menjadi seorang imam.

Masuk seminari berarti berani BEDA. Apa aja tuh bedanya? Pendidikan di Seminari berlangsung selama 4 tahun tak seperti SMA biasa yang hanya 3 tahun. Yah, jadi lama lulusnya dong? Di situlah letak keberanian para seminaris untuk benar-benar menyiapkan diri menjadi imam.

Terdapat 4 angkatan di Seminari Mertoyudan: Medan Pratama(tahun ke-1), Medan Tamtama(tahun ke-2), Medan Madya(tahun ke-3), dan Medan Utama(tahun ke-4). Jauh amat di medan? Bukan itu maksudnya. Seperti halnya medan perang, medan berarti situasi dan lingkungan dengan berbagai tantangan yang perlu dihadapi. Maka tak jarang seminaris yang akhirnya mengundurkan diri karena menemukan panggilan lain di luar seminari atau bahkan dikeluarkan karena suatu pelanggaran.

Setiap medan mempunyai tempat tidur(dormit), kamar mandi, ruang cuci, jemuran, ruang rekreasi(RR), kolam ikan, kandang ternak, Gua Maria sendiri. Kebersihan medan menjadi tanggungjawab setiap seminaris yang menempatinya. Kegiatan bersih-bersih di seminari disebut opera(kerja tangan)

  1. MEDAN PRATAMA

Seminaris di tahun pertama(Medan Pratama) masuk ke Kelas Persiapan Pertama(KPP). Nah, di tahun pertama ini seminaris belum masuk SMA, masih mengikuti kurikulum seminari. Pelajarannya gimana tuh? Pelajarannya sama seperti SMA biasa tapi lebih banyak mengulang materi SMP dan mempersiapkan materi kelas 10 SMA. Ditambah lagi dengan pelajaran khusus seminari seperti Sejarah Gereja, Pengantar Kitab Suci, Liturgi, SSS(Sanctitas, Sanitas,Scientia), dan Budi Pekerti.

Tujuan pembentukkan di Tahun pertama ini yaitu supaya seminaris merasa kerasan dengan tempat dan situasi baru. Di tahun pertama ini, para seminaris lebih difokuskan untuk berdinamika dengan teman seangkatan, belum terlibat aktif dalam kegiatan komunitas seminari. Tujuannya supaya saling akrab dan menumbuhkan kekeluargaan antar teman. Hal ini ditandai dengan tempat makan(refter) yang berbeda dengan seminaris MP, MT, dan MM, disebut juga Refter Kecil.

2. MEDAN TAMTAMA

Setelah lulus dari KPP, barulah seorang seminaris resmi masuk ke satuan pendidikan SMA. Medan Tamtama(tahun ke-2) adalah medan doa. Hidup doa betul-betul diperdalam di MT yaitu dengan bacaan rohani, rohani malam, adorasi,dll. Ketika masuk ke MT berarti seorang seminaris sudah masuk ke komunitas ditandai dengan makan di Refter Besar. Seminaris juga sudah terlibat aktif dalam OSIS dan kepanitiaan event-event besar seminari seperti Malam Kreativitas, MAMURI(Malam Musik Seminari), PETCA(Petrus-Canisiusan) yang berlangsung tiap tahunnya.

Di MT, seminaris dikenalkan dengan berbagai LHB(Lembaga Hidup Bakti). Apa tuh? LHB sama seperti lembaga perhimpunan imam Katolik seperti halnya SJ(Yesuit), OFM(Fransiskan), MSF, projo, dll. Dengan mengenal, seminaris memiliki gambaran jelas dan mulai menimbang-nimbang ingin masuk ke LHB mana. Wah banyak juga ya…Bedanya apa aja tuh? Ingin tahu lebih banyak? Cari jawabannya di seminari…

3. MEDAN MADYA

Tibalah di tahun ke-3 atau disebut Medan Madya(MM). Setelah berproses selama 2 tahun, saatnya menentukan pilihan hidup. Mau lanjut menjadi seorang imam atau awam? Pilihan itu dimantapkan dengan ret-ret Electio(memilih). Bagi seminaris yang memilih menjadi awam, tidak dapat melanjutkan formatio di tahun depan dan harus keluar dari seminari. Semua mereka yang memilih menjadi imam, meneruskan formatio di MU. Semua kembali lagi ke pilihan masing-masing. “Choose your love, love your choice”…

4. MEDAN UTAMA

Tahun terakhir di seminari, para seminaris menyiapkan diri mendaftar ke LHB yang dituju. Sebelum itu, pilihannya dimantapkan kembali dengan ret-ret Confirmatio(penegasan). Dengan begitu, seminaris menjadi siap dan mantap dalam memilih LHB mana yang dituju. Berbeda dengan seminaris MP, MT, dan MM, seminaris MU(Medan Utama) sudah tidur sendiri-sendiri loh… Tujuannya supaya seminaris memiliki waktu pribadi bergumul dengan dirinya sendiri. Di tahun terakhir, seminaris juga menjalankan UN SMA.

 

Sekian pengetahuan tentang apa itu seminari yang bisa saya bagikan beserta tentang gambaran Formatio seminaris di setiap tingkatannya. Semoga semakin mengenal dan akhirnya tertarik masuk seminari (promosi ni ye…).

Bagi yang ingin mengetahui sejarah berdirinya seminari secara detil bisa membacanya di:

(CEL)

“Hidup adalah sebuah perjuangan. Tugas kita yaitu memperjuangkan panggilan kita masing-masing dan tetap berserah pada penyelenggaraan-Nya.”

Sebarkan Kebaikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *