catatanseminaris.com

JUDUL : Community of Hope: Menjadi Murid Kristus Mewartakan Pengharapan Penulis : Mgr. Ignatius Suharyo Penerbit : OBOR Isi : 94 halaman ISBN : 978-979-565-757-6

“Injil menawarkan kepada kita kesempatan untuk menjalani hidup pada tataran yang lebih tinggi….” Kutipan yang diambil dari Anjuran apostolik yang berjudul Sukacita Injil. Mgr. Igantius Suharyo, penulis, mengajak umat untuk menyadari perutusan Gereja yaitu sebagai pewarta pengharapan. Buku “Community of Hope” berisi catatan-catatan penting yang terinspirasi dari buku berjudul L’Evangelizzatore in San Luca karangan Carlo Maria Martini SJ. Penulis menggunakan kisah-kisah dalam injil Lukas sabagai sarana menyampaikan gagasan-gagasannya.

  1. KETAATAN YANG MEMERDEKAKAN

Ada ungkapan yang beredar: “Taat mana bisa bebas”. Kata “taat” dan “merdeka” memiliki kesan paradoksal. Arti paradoks adalah hal yang berlawanan, tapi sebenarnya tidak. Penulis mengambil inspirasi dari kisah Lukas 4: 16-30 yang berjudul: “Yesus ditolak di Nazaret”. Dalam Injil Lukas, kisah ini ditempatkan di bagian pertama setelah Yesus mengalami pencobaan di padang gurun. Dengan kata lain, Penginjil Lukas sengaja menampilkan Yesus yang gagal dalam penampilan pertama-Nya. Ternyata, bukan kegagalan bagi-Nya, melainkan lewat kisah ini, Yesus ingin menunjukkan sikap lepas bebas dalam perutusan. Yesus adalah pribadi yang merdeka dalam ketaataan-Nya pada Bapa, yaitu dengan menjalankan tugas perutusan-Nya.

Yesus memang tidak memenuhi keinginan orang banyak, karena itu bukanlah tujuan-Nya. Ia datang untuk menjalankan tugas perutusan-Nya yaitu mewartakan tahun rahmat Tuhan telah datang.

Penulis menggarisbawahi satu hal bahwa yesus lebih mengutamakan integritas diri daripada berorientasi pada hasil. Ia menolak “pencitraan” di depan orang banyak, meninggalkan segala ambisi pribadinya. Ia berpegang teguh pada sikap lepas bebas dalam ketaatan-Nya pada Bapa.

  1. MURID YESUS: PRIBADI YANG LEPAS BEBAS, TERLIBAT, DAN PERCAYA

Yesus telah menyampaikan “program-Nya” dalam kisah sebelumnya(Luk 4: 16-30). Yesus akhirnya memulai karya pelayanan-Nya(Luk 9-18). Berbagai mukjizat Ia lakukan untuk membina para murid ke arah iman yang benar, tidak dangkal dan tidak legalistis. Penulis memakai kata “live in” untuk menggambarkan bahwa para murid yesus mengalami kenyataan hidup manusia dengan berbagai macam penderitaannya. Dalam hal ini para murid hadir terlibat dalam karya Yesus.

“Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah!” (Luk 12: 33)

Para murid diajak untuk memiliki sikap lepas bebas dari berbagai ikatan/kelekatan harta dalam arti seluas-luasnya. Dengan begitu, para murid akhirnya dapat menyerahkan dirinya seutuhnya pada Bapa. Penyerahan diri berbuah iman dan kepercayaan.

Kata-kata saja akan lewat dan sirna, tetapi kata-kata disertai dengan teladan akan membentuk pribadi. Tujuan pembinaan sebagai murid yesus adalah menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti-Nya.

  1. KERAHIMAN TUHAN YANG MEMBARUI HIDUP

Yesus mengajak untuk belajar dari kerahiman-Nya, salah satunya kepada petrus, rasul-Nya. Petrus menjadi figur murid yang kadang berada di posisi ketidaktahuan dan keraguan akan Yesus dan karya-Nya. Bahkan sampai akhir sengsara Yesus, ia masih menyangkal-Nya. Yesus menatap Petrus dan ia sadar akan perkataan Yesus: “Sebelum ayam berkokok, engkau akan menyangkalku sebanyak 3 kali.” Petrus pun menyesal dan meratapi kesalahannya itu. Wajah Yesus yang berbelas kasih mengubah hidup Petrus.

“…Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” (Luk 5:5)

Dalam kondisi kekecewaan karena tidak kunjung mendapat ikan, Petrus berusaha tetap taat dan sesaat setelah ia menangkap ikan yang banyak, ia sadar bahwa dirinya berdosa. Perasaan itu timbul secara spontan setelah Petrus mengalami pengalaman dikasihi oleh Orang yang bahkan belum dikenal sebelumnya. Petrus merasakan kasih Tuhan yang tidak bekesudahan.

  1. MENGIKUTI JEJAK MARIA

Maria adalah teladan orang beriman, juga teladan para calon Imam. Mengapa? Tak lain karena hidupnya penuh dengan ketidaktahuan dan ketidakberdayaan. Maria tidak mengerti akan perkataan malaikat bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus. Ia bingung harus menjawab apa. Di tengah segala pergulatannya,Maria berani menjawab “Ya”. Sebagai murid Kristus, kita dapat belajar dari pribadi Maria yang taat pada kehendak Bapa, walau nyawa taruhannya.

Menarik untuk mencermati kisah “Yesus diketemukan dalam Bait Allah”. Naluri keibuan Maria terpukul karena Sang Anak seakan menjauh dari pada-Nya, menjaga jarak. Begitupun saat Yesus menemui Maria, ibu-Nya dan berkata: “Siapakah ibu-Ku, siapakah saudara-Ku?”

Yesus berni meninggalkan segala sesuatu bahkan ibu-Nya sendiri demi rencana Allah. Melihat bahwa Anak-Nya ditolak di mana-mana, Maria kembali terpukul. Kembali lagi ke sifat dasar Maria, yaitu taat untuk menemani Yesus sampai akhir hayat-Nya di kayu salib. Maria percaya bahwa:

“Dalam satiap peristiwa hidup yang tidak selalu jelas, ada Tuhan yang sedang berkarya melaksanakan rencana-Nya”

  1. MENGIKUTI YESUS DALAM SENGSARA-NYA

“Mengapa kisah sengsara-Nya dikisahkan panjang lebar dalam keempat injil?” Pertanyaan ini adalah pertanyaan mendasar yang penting direfleksikan. Sengsara Kristus bukanlah sebuah kegagalan, melainkan tanda cinta kasih Allah yang tak terbatas.

Yesus diam. Ia tidak membalaskan perbuatan algojo-Nya, tidak pula meminta Allah untuk menyelamatkan-Nya dari sengsara-Nya. Yesus sadar bahwa Ia harus melaksanakan kehendak Allah yang Ia sadari sewaktu di Taman Getsemani.

Untuk pertama kalinya, Yesus disapa dengan nama langsung oleh seorang penjahat yang disalibkan bersama dengan Dia. Penjahat itu menjadi gambaran pribadi yang mau bertobat dan menganggap Yesus sebagai sahabat sepenanggungannya. Apa yang aku rasakan, juga dirasakan Yesus yang berada di sebelahku. Yesus yang menderita, engkaulah sahabat kami.

  1. MENGALAMI YESUS YANG BANGKIT

Perasaaan kecewa memang seringkali menyakitkan. Apa lagi dikecewakan oleh orang yang kita harapkan. Penulis mengajak para pembaca untuk belajar dari kisah “Dua Murid dari Emaus”. Mereka berwajah muram karena kecewa dengan Yesus yang selama ini digadang-gadang menjadi penyelamat umat Israel. Sepanjang jalan, mereka bercerita dengan seseorang yang adalah Yesus sendiri. Yesus hanya mendengarkan cerita mereka. Lama-kelamaan hati mereka berkobar karena-Nya.

Pengalaman bercerita (curhat) tentu meringankan beban, apalagi bersama Yesus sendiri. Bagi Yesus, cerita kedua murid itu masih mengandung unsur subyektif diri. Yesus mengajak untuk menempatkan seluruh pengalaman dalam kesatuan rencana Allah, bukan rencana pribadi. Kecewa boleh, tapi janganlah berlarut-larut. Bagikan kekecewaan itu kepada Yesus yang setia mendengarkan dan menemani dalam perjalanan hidup kita.

  1. MAGNIFICAT

Magnificat/ Kidung Maria adalah nyanyian syukur sekaligus harapan Maria. Ia selalu mengungkapkan bahwa segala sesuatu harus ditempatkan dalam kerangkan rencana Allah. Maria memuliakan Allah karena baik-buruknya suatu peristiwa adalah bagian dari rencana Allah. Dalam ketidakpastian dan keraguan, Maria percaya bahwa rencana Allah ridak pernah gagal. Ia pasti menggenapinya.

Murid Kristus diajak untuk belajar dari figur Maria yang berpengharapan. Apa pengharapanku? Apa magnificiat-ku? Menjadi komunitas murid Kristus yang memberi harapan dengan barbagi kasih, pengampunan, dan kesetiaan.

Buku “Community of Hope: Menjadi Murid Yesus Mewartakan Pengharapan” termasuk buku rohani Katolik yang mudah dibaca. Buku setebal 94 halaman ini  terbagi menjadi tujuh bab. Setiap bab memiliki pokok bahasannya masing-masing. Disarankan agar tidak terburu-buru untuk pindah bab, direfleksikan terlebih dahulu karena isinya yang begitu kaya dan relevan dengan hidup sehari-hari sebagai murid Kristus. Buku ini cocok dipakai sebagai bahan bacaan rohani.

 

Sebarkan Kebaikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *