kerja-sama

‘Kerja’ dan ‘sama’ maknanya menjadi berbeda ketika kedua kata itu disandingkan bersama.  Kerja sama ialah salah satu bentuk interaksi sosial yang bersifat asosiatif yang terjadi karena adanya pandangan yang sama dalam suatu kelompok masyarakat baik antar perorangan ataupun antar kelompok untuk mencapai tujuan tertentu.  Dimana letak kesamaannya? Tak lain dalam hal pandangannya. Kesamaan pandangan itu lahir dari perbedaan ide-ide yang kemudian dirangkai menjadi satu ide yang dapat diterima semua orang dan mendorong terjadinya interaksi sosial berupa kerjasama. Perbedaan itu menimbulkan suatu komunikasi dimana di dalamnya terdapat tukar-menukar ide dan gagasan antar pribadi. Kesamaan pandangan tidak lepas dari yang namanya perbedaan.

“Kita ingin Sumpah Pemuda menjadi semangat abadi para pemuda Indonesia, yaitu kerja sama beragam pemuda dengan latar belakang yang berbeda,” sebut Presiden Jokowi dalam video peringatan Sumpah Pemuda, 27 Oktober 2017 lalu. Dalam video itu, Presiden Jokowi mengajak pemuda untuk menjadi agen-agen perubahan yang membawa persatuan, bukan perpecahan apalagi intoleransi. Beragam kejadian intoleransi antar suku maupun agama terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Jika situasi seperti ini terus berlanjut, cita-cita mewujudkan Indonesia emas di tahun 2045 akan semakin jauh dari kenyataan. Kaum muda pun menjadi harapan masa depan bangsa. Perilaku mereka adalah cerminan masa depan Indonesia kelak.

TANTANGAN BONUS DEMOGRAFI

Indonesia akan mengalami Bonus Demografi di tahun 2020-2035 dimana 70% penduduknya berada dalam usia produktif. Tahun 2020 sudah di depan mata. Bagimanapun, kata “bonus” tidak didapatkan dengan cuma-cuma. Bonus demografi harusnya dipandang sebagai tantangan, khususnya bagi Generasi Z yaitu mereka yang lahir antara tahun 1995-2014.

Menurut Menteri Keuangan, Sri Mulyani, terdapat 3 hal utama untuk mempersiapkan kaum muda dalam menghadapi Bonus Demografi yang disingkat 3E(Education, Employment, Engagement). Yang ingin ditekankan disini yaitu Engagement yang berarti partisipasi dan keterlibatan. Kedua kata ini tentu tidak lepas dari yang namanya kolaborasi antar pemuda-pemudi Indonesia. Penelitian World Economic Forum tahun 2016 menyatakan bahwa kolaborasi adalah kompetensi utama abad ke -21. Inilah tantangan kita bersama, berkolaborasi.

Lebih jauh lagi, tahun 2045 disebut-sebut sebagai tahun “Generasi Emas Indonesia”. Untuk menyambut seratus tahun Indonesia merdeka, pemerintah berharap mampu mewujudkan Indonesia emas. Bukan hanya pemerintah tapi juga kita semua. Seperti halnya para Founding Fathers yang bekerjasama dan berjuang demi kemerdekaan Indonesia, begitupun yang perlu dilakukan pemuda-pemudi Indonesia, membangun sinergitas terus-menerus.

REALITAS

Berbagai kejadian di sekeliling kita, semisal tawuran, suka nge-geng, konvoi ugal-ugalan telah  melekat dengan diri pelajar, khususnya SMA di  Indonesia. Ketika dihadapkan pada perbedaan, mereka akan beraksi dengan cara yang negatif seperti perilaku diatas. Dari sana kita dapat mengetahui bahwa remaja suka berkumpul dengan teman yang mempunyai kesamaan hobby maupun sifatnya. Mereka berusaha menjadi sama dan menghindari perbedaan. Remaja kebanyakan merasa nyaman dalam persamaan, sehingga sulit membangun kerjasama dengan orang lain di luar kelompoknya yang notabene berbeda. Apakah kita harus sama dulu baru bisa kerja sama?

Perbedaan tidak bisa dihindari. Perbedaan sudah menjadi kenyataan yang ada di dalam masyarakat Indonesia yang terdiri dari tujuh ratusan suku yang berbeda-beda. Diperlukan sifat saling menerima dan memahami sifat, pemikiran, dan ide untuk dapat saling bersinergi. Bila disikapi dengan terbuka, perbedaan ide dapat diterima dan dikembangkan bersama.  Namun, bila disikapi dengan tertutup, maka perbedaan itu malah berbalik dan menjadi ‘senjata’ yang bersifat saling menjatuhkan satu kubu dengan kubu lainnya.

“Tujuan pendidikan bukan demi mengisi kepala dengan materi pelajaran, melainkan menjadikan murid berpikiran terbuka,” ungkap Yenny Wahid dalam Konferensi Borobudur ketiga di Kawasan Candi Borobudur, beberapa bulan lalu. Openmindedness atau keterbukaan-pikiran menjadi objek utama yang harus diperjuangkan dalam pendidikan. Lewat kegiatan diskusi, kerja kelompok, dan presentasi yang dipraktikkan dalam Kurikulum 2013 ini, pelajar diharapkan menjadi berpikiran terbuka dan terbiasa dalam membangun kerjasama yang positif.

Seminari Menengah St. Petrus Canisius Mertoyudan ibarat Indonesia kecil. Artinya, para seminaris (siswa seminari) berasal dari berbagai daerah dari seluruh Indonesia. Para seminaris harus hidup bersama dalam satu lingkup lingkungan yang sama, yaitu seminari. Hidup ditengah perbedaan bukanlah hal yang mudah tapi seiring berjalannya waktu perbedaanlah yang menjadi pemersatu. Misalnya saja dalam hal bahasa. Seminaris dari luar Jawa tengah belajar bahasa Jawa dan mencoba memakainya dalam hidup sehari-hari. Sikap terbuka terhadap perbedaan (openmindedness) menjadi penting dalam hidup berkomunitas di seminari. Sebagai pendidikan calon imam, seminari berhasil menjadi miniatur ‘medan perutusan’ sebelum akhinya mereka berkarya sebagai imam nantinya.

TEMU KOLESE

Melihat realitas dan tantangan kaum muda di masa mendatang,  Temu Kolese 2018 mengambil tema “Kita tidak sama tapi kita kerja sama”. Acara tahunan 9 kolese ini akan diadakan pada tanggal 8-12 Oktober. Di Temu Kolese, semua kontingen dari setiap kolese berdinamika bersama selama 5 hari. Mereka harus berani keluar dari zona nyamannya yaitu kolesenya masing-masing. Melihat kondisi anak muda zaman sekarang, dapatkah para pelajar sekolah Jesuit ini menjadi pelopor kerjasama dalam pluralitas masyarakat Indonesia?

Mari bersama wujudkan sinergi di  antara kita. Jadikan perbedaan sebagai pemersatu bangsa. Bergandeng tangan kita bangun perdamaian. Pemuda Indonesia, kita tidak sama tapi kita kerjasama!

 

 

 

Sebarkan Kebaikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *