mamuri 2019

MAMURI adalah singkatan dari Malam Musik Seminari. Seperti namanya, acara dua tahunan Komunitas Seminari Mertoyudan ini menjadi ajang para Seminaris mengungkapkan ekspresi bermusiknya.  Mamuri merupakan rangkaian acara selama sebulan yang berisi lomba-lomba, input(seminar), dan ditutup dengan acara puncak.

MAMURI 2018

Mamuri 2018 mengambil tema Swaranamaskar dengan mengangkat slogan  “Express Your Own Wave”. Swaranamaskar diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti menyambut suara. Dalam hal ini, musik tidak sekedar diartikan secara harafiah dengan mendengar suara, melainkan mengkontemplasikan maknanya. “Express Your Own Wave” berarti ekspresikanlah gelombangmu.

Pada prinsipnya, Mamuri adalah pesta musik yang bersifat intern Seminari Mertoyudan. Jadi, pesertanya para seminaris sendiri. Namun dalam beberapa lomba, turut diundang beberapa sekolah sekitar Magelang untuk semakin memeriahkan acara ini, seperti lomba paduan suara dan cover lagu.

Seminaris punya cara sendiri dalam menikmati musik. Sebagai ramaja yang sedang menjalankan pendidikan sebagai calon imam, para seminaris juga tidak serta merta “kudet” dengan perkembangan musik sekarang. Demam girlband korea juga merambah seminaris, terbukti dengan ramainya Ruang komputer setiap medan yang dipenuhi oleh lagu-lagu luar, tak terkecuali K-Pop. Tak hanya Korea, tren lagu pop Barat juga turut menjadi favorit playlist di Ruang komputer.

SOSIALISASI

Rangkaian MAMURI 2018 dimulai dengan sosialisasi acara.  Mulai dari tema, logo, jargon, semua ditampilkan pada sosialisasi ini. Rangkaian acara berupa lomba-lomba pun tak lupa dijelaskan oleh Moderator dan ketua panitia. Setiap panitia lomba menjelaskan teknis pelaksanaan setiap lomba di Mamuri 2018. Sebelum penjelasan lomba, telah ditampilkan contoh dari masing-masing cabang lomba(visualisasi lomba). Pada akhir sosialisasi, Theme seong Mamuri 2018 diperdengarkan untuk pertama kalinya.

LOMBA MUSIK KLASIK DAN JAZZ

Alat-alat musik orkestra tampak memenuhi panggung aula Seminari, seperti Flute, cello, violin, viola, Trumpet, Trombone, dan sebagainya. Ya, inilah perlombaan musik klasik dan jazz. Berbagai lagu klasik dibawakan kembali dengan alat musik yang berbagai macam juga. Ada penampil solo, duo, trio, bahkan orkestra. Lomba yang diadakan pada Rabu(7/11) ini termasuk lomba intern seminaris.

LOMBA SOLO VOCAL

Para peserta menunjukkan bakat dan kebolehannya dalam bernyanyi solo(10/11). Setiap penampil menampilkan dua lagu, satu lagu wajib dan satu lagu bebas. Lagu wajib yang disediakan panitia yaitu OST dari beberapa film musikal seperti Moana, Greatest Showman, Aladeen, dsb.

Setiap medan(angkatan) punya jagoannya masing-masing. Ada yang memang karena bersuara merdu, tapi ada pula yang karena bernyanyi dengan “suara dua”(lebih rendah dari nada asli), hahaha… Seminaris ternyata menyimpan bakat nyanyi juga ya, sering dilatih di kamar mandi pastinya, hihihi…

LOMBA MUSIKALISASI PUISI

Lomba ini diikuti oleh satu perwakilan setiap medan. Puisi yang dinyanyikan adalah “Ku Antar Kau ke Kamar Mandi” karya Sapardi Djoko Damono. Melodi-melodi yang dihasilkan amat beragam dan menimbulkan suasana yang berbeda-beda pula. Ada yang menciptakan suasana menegangkan, ceria,dan bingung(misteri). Keren-keren deh pokoknya…

LOMBA GAMELAN DAN MACAPAT

Lomba gamelan diadakan di podium Bangsal kaca pada tanggal 14 November lalu. Pesertanya yaitu perwakilan setiap medan. Seminaris tentu sudah tidak asing dengan yang namanya gamelan ini nih… Soalnya, kami sudah mengikuti ekskul selama setahun di KPP(Kelas Persiapan Pertama). Jadi, persaingan ketat bakal terjadi di lomba ini tentunya. Seminaris juga perlu kenal dengan kebudayaan Jawa seperti gamelan dan tembang macapat ini. Dengan mengenal, nantinya kami semua dapat melestarikan budaya ini agar tetap eksis di tengah perkembangan zaman modern ini.

FESTIVAL MUSIK

Dalam festival musik ini, diadakan lomba boyband . Pesertanya bebas, tampilannya juga bebas. Ada yang menampilkan komedi lewat gerekan-gerakan dan remix musik yang diciptakan. Ada pula yang secara serius dan seragam. Gerakan-gerakannya luwes banget, kayak nonton boyband Korea asli aja hahaha…

Dikarenakan demam K-Pop di Seminari, pada Mamuri 2018 ini, diselenggarakanlah lomba yang tergolong baru yaitu lomba Boyband yang menjadi satu kesatuan dengan acara Festival musik, Sabtu malam(17/11) lalu. Acara ini  menjadi wadah ekspresi para seminaris untuk menyalurkan bakat dance-nya dan ternyata banyak juga loh seminaris yang jago nge-dance. Seminaris yang katanya suci-suci dan alim ternyata bisa gial-gilaan juga ya di panggung. Acara dilanjutkan dengan makan bersama setiap baver(basis vertikal) di sekitar kawasan MP(Medan Pratama). Kami diperbolehkan membeli makan di luar untuk tambahan lauk. Ada yang membeli ayam geprek, mie goreng, ayam goreng, dll.  Hmm, nikmat banget ya…

Setelah kenyang makan-makan, kami disuguhkan banyak tampilan dari seminaris sendiri. Acara festival musik ini bersifat lebih bebas, bukan perlombaan. Penampil juga bebas menampilkan tampilan musik apapun. Ada lagu dangdut, rock(bikin mosing nih), pop,dll. Pokoknya seru-seruan. Beginilah malam minggu di Seminari, bergembira bersama teman-teman satu komunitas. Walau satu komunitas laki-laki semua, kami  dapat berekspresi lebih bebas, tak ada lagi yang namanya jaim-jaiman di Seminari, hahahah…

LOMBA PADUAN SUARA

Lomba yang dilaksanakan pada Minggu(18/11) ini termasuk lomba yang terbuka bagi sekolah-sekolah sekitar. Menurut rencana, tiga sekolah lain akan turut mengikuti lomba paduan suara. Namun, saat hari-H yang datang hanya satu sekolah, SMA Sedes  Sapientiae. Walau begitu, semangat tak boleh kendor. Aku ditunjuk secara “paksa” sebagai MC, bersama Farrel. Ya gitu deh, di seminari dilatihkan ketaatan dengan perutusan dan tugas yang diterima.

Bukan cuma MC-nya yang mendadak, tapi juga penampilnya. Begitulah seminaris, senengnya dadakan. Hal ini juga dikarenakan kurangnya waktu persiapan lomba. Menurut para penampil dari keempat medan, waktu persiapannya kurang dari dua minggu. Jadi, para juri berpendapat bahwa tampilan belum maksimal.

Bukti real-nya adalah Canis Choir, koor Seminari Mertoyudan yang bulan Juni lalu melaksanakan konser di Jakarta. Practices make Perfect, guys!

Demikian keseruan dari kami para Seminaris yang mengikuti rangkaian lomba di Mamuri 2018 ini. Ada saat di mana tampil bagus, tapi kadang juga tampil kurang persiapan dan jelek. Namun itu semua adalah bagian dari formatio kami sebagai calon imam yang juga perlu belajar dan berlatih bermusik. Salah satu caranya yaitu dengan menyambut suara itu sendiri dan mengekspresikannya lewat karya. MAMURI 2018 “SWARANAMASKAR”: Express Your Own Wave!

 

Sebarkan Kebaikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *