Pada Senin (6/4/20), Komunitas Seminari Menengah St. Petrus Canisius Mertoyudan Magelang sempat dikagetkan dengan Surat Pemberitahuan dari Minister Seminari Rm. Dradjat Soesilo, SJ yang menyatakan bahwa akan diadakan perayaan ekaristi terbatas di trihari suci ini. Perayaan Ekaristi yang semula akan diadakan di GOR Laudato Si, digantikan dengan Perayaan Ekaristi terbatas dan sederhana di Kapel Besar St. Petrus Canisius. Padahal, selama sebulan terakhir ini panitia Prapaskah 2020 telah membagi petugas liturgi, paduan suara (kor), dekorasi, dsb.

ekaristi terbatas

Altar yang telah dipersiapkan untuk misa Kamis Putih.

Setelah berkoordinasi dengan Bapak Kapolsek setempat (Mertoyudan), izin tidak diberikan sesuai dengan maklumat Kapolri No: Mak/2/III/2020 tentang “Kepatuhan Terhadap Kebijakan Pemerintah Dalam Penanganan Penyebaran Virus Corona (Covid-19)”. Dalam Maklumat Kapolri Nomor 2 poin (a) termaktub: “Tidak mengadakan kegiatan sosial kemasyarakatan yang menyebabkan berkumpulnya massa dalam jumlah banyak baik di tempat umum maupun di lingkungan sendiri.” Di dalamnya, kegiatan keagamaan juga ikut disinggung.

Sebagai jalan keluarnya, misa dilaksanakan secara siaran langsung (live streaming) di Kapel Besar oleh Imam dan petugas liturgi saja. Para seminaris dan staf seminari lainnya mengikuti Ekaristi di tiga tempat berbeda, meliputi aula, ruang rekreasi MM (Medan Madya), dan ruang rekreasi MT (Medan Tamtama).

Ketika dimintai keterangan terkait keputusan ini, Rektor Seminari Rm. Leo Agung Sardi, SJ mengatakan bahwa tidak ada solusi yang sepenuhnya ideal. “Dalam hal ini kita menggunakan prinsip minus malum (terbaik dari yang terburuk),” tambahnya.

Senada dengan Surat Pemberitahuan Minister, Rm. Sardi mengungkapkan bahwa saat ini Seminari sedang berkutat dalam ranah aturan dan pengecualian (rule and exception). Untuk perayaan Tri Hari Suci ini, seminari harus taat pada aturan mengingat bahwa rangkaian perayaan ini cukup menarik perhatian. Dalam hal lainnya, seperti misa harian, makan bersama, dan kegiatan formasi lainnya diterapkan beberapa pengecualian yang dilengkapi prosedur tetap (protap).

Solidaritas dan Ketaatan

Walau terpisah dari warga luar, Seminari hendak membangun rasa solidaritas dengan umat beriman lainnya, salah satunya dalam hal peribadatan. Selain itu, Seminari juga memiliki kewajiban untuk taat terhadap kebijakan pemerintah. Menimbang dua alasan di atas, pihak Seminari memutuskan untuk meniadakan

ekaristi terbats

Seorang koster tengah membereskan altar yang telah disiapkan untuk misa Kamis Putih di GOR Laudato Si.

perayaan bersama Tri Hari Suci. Tindakan preventif ini diambil supaya tidak menimbulkan kecurigaan apalagi laporan buruk dari warga sekitar―GOR berbatasan langsung dengan pemukiman penduduk.

Di tengah situasi kekecewaan dan perubahan yang meliputi komunitas ini, Rm. Dradjat mengajak para seminaris untuk tetap bersyukur masih bisa merayakan Ekaristi, menerima komuni fisik, dan terlebih bersyukur masih berada di Seminari.

“Mari, para seminaris, kita mempersembahkan segenap kekecewaannya kepada Yesus yang tersalib, agar lewat kebangkitan Kristus, kitapun dapat bangkit sebagai pemenang dari pandemi Covid-19 ini,” ajak Rm. Dradjat dalam instruksinya.

(CEL)

Sebarkan Kebaikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *