Tahukah kamu bahwa berdirinya Seminari Mertoyudan berawal dari niatan dua orang pemuda? Mereka adalah Petrus Darmaseputra dan F.X Satiman. Kedua pemuda lulusan kweekschool Muntilan ini berkeinginan menjadi imam. Mereka menyatakan niatan itu kepada Rm. Van Lith dan Rm. Mertenz, SJ. Gagasan kedua pemuda ini mengetuk hati para romo misionaris dari Belanda itu bahwa Indonesia membutuhkan imam pribumi yang dapat menjadi penerus misi kekatolikkan di Indonesia. Surat perizinan dari Roma pun diurus. Per tanggal 30 Mei 1912, Roma mengirimkan surat resmi yang mengizinkan pengyelenggaraan pendidikan calon imam di Indonesia. Oleh sebab itu, 1912 dijadikan tahun resmi berdirinya seminari Mertoyudan.

Perlu anda ketahui bahwa seminari pertama-tama bukan didirikan di Mertoyudan, melainkan di Kolese Xaverius. Selanjutnya dibuka juga seminari kecil (klein Seminarie) di sebelah Barat KOLSANI(Kolese St. Ignatius)Yogyakarta pada Mei 1925. Kenapa disebut seminari kecil? Karena Seminari ini diperuntukkan bagi siswa lulusan SD(HIS&ELS) waktu itu. Kemudian di tahun 1927, kursus di Muntilan digabung dengan seminari kecil di Yogyakarta. Karena murid yang bertambah banyak, Seminari berpindah tempat ke Mertoyudan,Magelang. Seminari Mertoduan secara resmi beroperasional pada tanggal 13 Januari 1941.

  • SEMINARY IN DIASPORA

Pada masa kependudukan Jepang, gedung Seminari diambilalih tentara Jepang dan dijadikan sekolah Pertanian Nogako. Walau terpaksa dipulangkan ke rumah masing-masing, pendidikan calon imam tetap diselenggarakan di pastoran-pastoran. Keadaaan ini berlangsung sampai tahun 1925.

  • REVOLUSI FISIK

Pada masa ini, gedung seminari dibumihanguskan dan barang-barang dijarah. Tapi kemudian Vikariat Semarang membangun kembali seminari dan selesai di tahun 1952. Gedung baru ini meliputi kompleks Domus Patrum dan Medan Madya. Gedung ini diberkati oleh Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ.

Lima tahun kemudian kompleks Medan Utama dan Medan Pratama didirikan. Seminari pada mulanya menerima siswa lulusan SD tapi sejak 1968 Seminari hanya menerima lulusan SMP yang kemudian akan masuk KPP(Kelas Persiapan Pertama). Bukan hanya lulusan SMP, seminari juga menerima siswa lulusan SMA yang kemudian akan masuk KPA(Kelas Persiapan Atas).

Seiring berjalannya waktu Seminari terus membangun fasilitas dan gedung tambahan, antara lain:
  • Perpustakaan (10 besar Nasional)
  • Rumah Musik
  • GOR Laudato Si
  • Ruang Kelas Baru
  • Dapur dan ruang cuci piring

Sekian sejarah singkat mengenai Seminari Mertoyudan. Semoga membantu kita untuk lebih mengenal dan tertarik untuk mendaftar ke seminari Mertoyudan. Terima kasih.(CEL)

Sebarkan Kebaikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *