Pengalaman mengikuti Temu Kolese adalah kesempatan yang sangat berharga bagi para siswa kolese Jesuit di Indonesia, tak terkecuali bagi Seminaris, calon Imam. Acara tiga tahunan yang melibatkan kontingen dari kedelapan Kolese Jesuit ini mengangkat tema “Embracing Diversity: Kita Tidak Sama Kita Kerja Sama”.  Kedelapan kolese itu antara lain, Kolese Kanisius(SMP & SMA), Kolese Gonzaga, Kolese Loyola, Kolese De Britto, Kolese Le Cocq d’Armanville, Seminari Mertoyudan, Kolese PIKA, Kolese Mikael. Bukan hanya perlombaan olahraga dan non-olahraga, selama Tekol, para peserta juga akan mengikuti berbagai input, kunjugan ke berbagai tempat, live-in, dan masih banyak lagi.

Penulis berkesempatan mengikuti acara Temu Kolese 2018 yang diadakan pada 10-13 Oktober 2018 lalu. Yuk ikuti pengalamannya 4 hari berkesannya…

Hari Pertama : ORIENTASI

Pukul 02.30, kontingen Seminari tiba di SMA Kolese Kanisius, Menteng, Jakarta Pusat. Di bagian registrasi, setiap peserta dibekali kartu pengenal(Name Tag) dan  booklet . Matahari menampakkan sinarnya, memecah keheningan pagi di Ibukota. Setiap kontingen sudah bersiap di belakang lapangan bola untuk bersiap mengikuti upacara pembukaan. Sahut menyahut lagu dari setiap kolese, membangkitkan semangat kami. Namun, masih terasa bahwa kami masih menyuarakan nama kolese masing-masing, menunjukkan kolese mana yang terbaik mungkin.

Setiap kontingen memasuki lapangan upacara dengan membawakan de file nya masing-masing. Rangkaian Temu Kolese ini secara simbolis dimulai dengan dinyalakannya obor TEKOL pada upacara pembukaan. Api mengebulkan asap ke langit Jakarta yang rasanya hanya menambah polusi udara. Bagaimanapun juga, obor ini menjadi lambang nyala api semangat yang tak kunjung padam di hati setiap peserta Tekol.

Semua kontingen berkumpul di Sport Hall dengan cabang lombanya masing-masing untuk mengikuti pengarahan singkat dan penjelasan tema Tekol yaitu merangkul keberagaman. Ibu kota menjadi tempat yang cocok dan tepat untuk mengalami sendiri perbedaan itu. Isu radikalisme, kemiskinan, dan konflik antar agama menjadi masalah-masalah yang anak muda sedang alami di era digital ini.

Aku mengikuti lomba debat Inggris. Hari ini dijadwalkan untuk Technical Meeting bersama panitia lomba. Peraturan-peraturan debat dijelaskan kembali. Debat menggunakan format Asian Parliamentary Debate. Ini adalah kali pertamaku mengikuti lomba debat Inggris. Bukan cuma aku tapi juga 2 teman satu timku, Mercel dan Carlo. Kami bertiga hanya punya basic debat bahasa Indonesia, dan sekarang diutus seminari untuk ikut debat Inggris. Lomba akan dilaksanakan besok pagi.

Salah satu yang berbeda selama 4 hari ini adalah makanannya. Bagi kami seminaris yang sudah akrab dengan tahu dan tempe, makanan di Tekol ini terasa sangat spesial. Lauk pauk hewani selalu tersedia setiap kali makan. Alhasil tiap kali makan, piring pun bersih, sih,sihhh…(bahkan nambah)

Selama Tekol ini, Jaringan Gusdurian mengisi input berkaitan dengan tema Tekol ini. Pada input pertama ini, kami diminta untuk menuliskan stigma-stigma buruk (stereotype) terhadap sesama yang berbeda suku, agama, dan rasnya. Misalnya, orang Batak itu suka marah-marah, orang Sunda itu ramah, dsb. Kami disadarkan bahwa kita semua mempunyai stigma-stigma terhadap orang lain yang berbeda dengan kita. Pikiran ini disadari atau tidak mampu membatasi interaksi kita dengan orang lain, dan akhirnya sulit mencapai kerja sama itu sendiri. Semakin dikuak semua stigma itu, semakin menandakan bahwa orang muda sedang dalam keadaan yang “darurat” dan rawan perpecahan. Sadar berarti menjauhi stigma-stigma itu yang akan diterapkan dalam Temu Kolese ini.

Pada dasarnya, kegiatan lomba dibagi menjadi dua, yaitu lomba non-olahraga dan lomba olahraga. Bagi peserta olahraga, mereka diutus untuk live in di rumah-rumah sekitar, sedangkan bagi peserta non-olahraga, tetap tinggal di dormitorium kelas Kolese kanisius. Lomba ada yang dilakukan  secara kolaborasi seperti halnya sepakbola dan basket dan ada juga yang mengatasnamakan kolese masing-masing. Hal ini sejalan dengan tujuan diadakannya Tekol yaitu para peserta didik dari kolese-kolese Jesuit dapat saling bertemu dan berkolaborasi

Sebelum istirahat malam, para peserta diajak melakukan pemaknaan(Examen) melalui video dan renungan yang telah disiapkan oleh tim liturgi. Bagi peserta yang live in dapat melakukannya secara streaming Youtube. Pertayaannya, apakah aku mau membuka diri terhadap perbedaan yang ada di sekitar dan meninggalkan stigmas-stigma itu?

Hari Kedua : Melihat Dunia yang Terbelah

Hari kedua dibuka dengan Ekaristi pagi. Pagi ini lomba debat akan dimulai. Kami bersiap menuju aula lt. 4 SMA yang menjadi tempat berkumpulnya para debaters. Mosi yang dipertandingkan hari ini adalah mosi no.5 yang cukup sulit bagi kami. Drawing pun dilakukan dan Seminari bertemu dengan SMA CC (Kanisius). Wah, kaget bukan kepalang aku menyadari bahwa lawan kami adalah SMA CC yang notabene sudah berpengalaman jauh  lebih banyak daripada kami. Teman satu timku, Marcel, mengingatkanku untuk tidak panik dan tenang. Dengan penuh keyakinan, kami keluar dari Aula untuk melakukan Case Building.

Debat berlangsung seru. Serang menyerang argumen terjadi sampai-sampai aku lupa kalau sudah tidak boleh POI (Point of Interuption). Dari segi pembawaan dan sistematikanya, kami harus mengakui keunggulan mereka. Debat pun dimenangkan SMA CC dan Seminari harus tersingkir di babak pertama. Bukan kekecewaan yang menyelimutiku melainkan rasa bangga karena ternyata kami kalah dengan selisih tipis. Pengalaman debat pertama yang sangat mengesan buatku.

Setelah menyadari tentang stigma-stigma yang ada di sekitar, pada input kedua ini, kami diajak untuk merumuskan inisiatif dalam rangka menghilangkan segala stigma yang ada. Kelompok kami merumuskan bahwa diperlukan sikap open-minded, Compassion, dan Positive Thinking.

Pesan Input langsung terasa gunanya. Aku harus menjadi yang pertama untuk berkenalan dengan orang lain. Jangan malu dengan diri sendiri, apalagi malu karena takut dibilang SKSD(Sok Kenal Sok Dekat). Di Tekol ini, para peserta diajak untuk mendobrak itu semua sebagai perwujudan tema keberagaman yang diangkat tahun ini.

Para peserta disungguhkan lawakan segar dari para komika yang mengikuti lomba Stand Up Comedy Tekol 2018. Tema yang dibawakan yaitu keberagaman. Setelah itu, para peserta olahraga menuju tempat live-in, sedang peserta non-olahraga mandi untuk bersiap menonton lomba non-olahraga, yaitu Tari tradisional dan Acapella.

Dalam evaluasi kontingen, aku sempat mengungkapkan ketidakadilan di Tekol kali ini. Mendengar cerita teman-teman yang live in, aku merasa miris. Kami di sini, tinggal di kelas-kelas dengan karpet, sedang mereka tidur di kamar masing-masing. Teman-teman merasa senang karena diajak jalan-jalan ke mall, nonton Asian Para Game, bisa main hp, bahkan online sampai tengah malam. Apakah itu yang dicari di Tekol ini? Perasaan kecewa berubah menjadi syukur karena setidaknya kami(peserta non-olahraga) dapat menemukan makna setiap harinya dengan Examen di tempat. Aku merefleksikan bahwa nilai-nilai kehidupan lebih berharga daripada apapun.

Hari ketiga: Dialog keberagaman

Pada input ketiga ini, kami diajak untuk meneladan dua tokoh penggerak mesyarakat, Romo Mangun dan Gus dur. Hal-hal apa yang dapat kami teladani dan tindakan konkret apa yang akan kami lakukan dalam kolese masing-masing. Secara pribadi, aku menemukan teladan kesederhanaan bahwa kedua tokoh ini tetap memilih hidup sederhana walau sudah menempati jabatan tinggi, baik sebagai seorang Imam Katolik maupun Presiden. Keduanya juga dikenal dekat dengan masyarakat sekitar, menjadi pemimpin yang mau mendengarkan dan menerima aspirasi semua orang. Untuk mewujudkan semua itu, seseorang harus bisa terbuka terhadap perbedaan yang ada, menerimanya sebagai kekayaan yang perlu dijaga.

Pagi ini, aku membantu menjajakan souvenir Seminari. Di Tekol ini, terdapat bagian “Tekol Expo” yang didalamnya terdapat stand-stand yang menjual souvenir dari masing-masing kolese. Seminari dipasangkan bersama stand dari Serikat Yesus(SJ), mentang-mentang calon imam ye, hihihi…

Hari ini pengunjung stand seminari banyak sekali sehingga kaos banyak yang sudah kehabisan. Lewat interaksi dengan para pembeli, kami menunjukkan bahwa sebagai seorang calon imam, kami juga dapat berkreasi dan gaul juga, terbukti lewat kaos-kaos seminari yang unik-unik. (banyak yang bertemakan rohani, jangan kaget ya, hahaha..).

Sorenya, peserta olahraga berkesempatan untuk mengujungi Gedung Joeang 45 dan Museum Kebangkitan Nasional. Dengan mengenang sejarah Indonesia dalam merebut kemerdekaan dulu, para siswa kolese harus semakin sadar bahwa kemerdekaan yang diraih Indonesia adalah hasil kerjasama seluruh masyarakat Indonesia dari berbagai daerah, latar belakang suku, agama, dan ras yang berbeda-beda. Semuanya dipersatukan oleh rasa Nasionalisme sebagai sebuah bangsa.

Acara yang paling ditunggu-tunggu yaitu Malam kesenian. Setiap kolese menampilkan tampilannya masing-masing. Ada tampilan tari Saman dari Kolese Gonzaga, Musikalisasi Puisi dari Seminari Mertoyudan, tari Kecak dari Kolese Mikael, modern dance dari Kolese Loyola, dan masih banyak lagi. Semuanya menggambarkan keragaman budaya. Sambil menonton, para peserta saling berinteraksi satu sama lain. Aku berkenalan dengan beberapa teman dari SMA CC. Aku sekali lagi mendapat pelajaran bahwa anggapan “anak CC itu kaya dan sombong” tidaklah benar. Terbukti lewat perkenalanku dengan mereka yang dengan mudah akrab denganku. Aku harus menjadi yang pertama berinisiatif, jangan tunggu orang lain untuk berkenalan.

Pada tampilan penutup, dibawakan lagu “Sahabat Kecil” dari Ipang yang membuatku semakin terbawa suasana hangatnya persahabatan. Sebelum itu, tak lupa dinyanyikan Theme Song Tekol dari SMA CC. Kami mengikuti gerakan yang telah dilatihkan sedari hari pertama.

Untuk kedua kalinya, obor Tekol dinyalakan sebagai lambang api persatuan di Tekol kali ini. Nyala obor kembali menyalakan semangat kami untuk bernyanyi bersama di sekitar obor yang menyala. Seruan yang paling berkesan bagiku yaitu “Kolese Bersatu Tak Bisa Dikalahkan”. Secara spontan, kami semua menyerukan seruan yang sama. Ini menjadi bukti bahwa kami tidak lagi membawa nama kolese masing-masing melainkan satu Kolese. Harapannya, para siswa kolese mampu menyebarkan pesan ini juga di kolesenya masing-masing dan akhrinya menggemakan ke masyarakat Indonesia. Murid kolese harus menjadi pelopor dan agen perubahan(agent of change) bagi orang di sekitarnya. Inilah yang membedakan kolese Jesuit dengan sekolah-sekolah lainnya.

Hari keempat: Sayonara

Kontingen seminari

Tak terasa sudah 4 hari sudah kami berdinamika bersama. Sebelum pulang, aku masih merasa seperti masih ada yang kurang gitu. Aku ingat bahwa aku belum banyak bersosialisasi dengan teman-teman yang terbang jauh-jauh dari Papua, Kolese Le Cocq. Aku ngobrol dengan Odi dan Etha. Kami ngobrol banyak tentang kondisi masyarakat, kebudayaan, pendidikan di Papua. For your info, Keuskupan Agung Jakarta juga punya misi di Papua loh…Tertarik?

Rangkaian kegiatan ditutup dengan misa penutupan. Uniknya, setiap peserta diwajibkan memakai pakaian adat. Aku memakai baju sejuta umat, baju lurik. Misa dibawakan secara konselebran yang dipimpin oleh semua pamong dari kedelapan Kolese. Uniknya, doa umat dibawakan dengan berbagai bahasa, mulai dari bahasa Batak, Flores, Sunda, Cina, Jawa, dll. Setiap peserta diajak untuk mengunggah foto bersama tema-teman dengan pakaian adat berbeda untuk semakin menyuarakan tema yang diangkat, “Embracing Diversity: Kita Tidak Sama , Kita Kerja Sama”. Pengumuman juara pun dimulai. Seminari memboyong tiga piala, yaitu juara Desain Logo Tekol, juara 3 Lomba Fotografi, dan juara 2 Lomba Film Pendek.

Sebelum pulang, kami beres-beres barang dan membersihkan Dormitorium kelas yang dipakai. Mars seminari berkumandang di lapangan bola, seiring kontingen Seminari pulang meninggalkan Kolese Kanisius. Aku berpamitan dengan teman-teman dari kolese lain. Mereka memberiku semangat dalam menjalani formatio di Seminari. Aku semakin diteguhkan dengan pengalaman Tekol ini. Keseluruhan pengalamanku selama 4 hari di Tekol ini terangkum dalam satu frasa: “Keberagaman: Jembatan Menuju Persatuan”. Persatuan tak akan terwujud jika tanpa perbedaan. Keragaman menjadi sebuah sarana, dalam hal ini jembatan untuk mencapai persatuan. Kerja sama terwujud jika kita mau terbuka dengan segala perbedaan yang ada. Mari wujudkan persatuan dari diri sendiri!

 

Christofer Edgar Liauwnardo

kontingen Seminari Mertoyudan

Sebarkan Kebaikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *