teris 2018Para seminaris Keuskupan Agung Jakarta berkumpul di aula Katedral Jakarta pada Kamis(27/12). Mereka disambut para frater Seminari Tinggi Yohanes Paulus II. Mereka dipertemukan dalam acara  Temu Seminaris KAJ 2018. Teris tahun ini mengangkat tema: “Energy Of Church”. “Tema Teris 2018 yang terinspirasi dari tema Asian Games 2018 ini menyuarakan semangat para kaum muda, terutama seminaris yang adalah masa depan Gereja,” ungkap Fr. Lendra, ketua  panitia Teris 2018.

Komunitas Seminari Tinggi St. Yohanes Paulus II menyelenggarakan Temu Seminaris 2018. Acara tahunan para seminaris ini berlangsung selama dua hari satu malam di Wisma Samadi Klender. Para seminaris yang berjumlah sekitar tujuh puluh orang ini berasal dari tiga seminari berbeda, antara lain Seminari Menengah Santo Petrus Canisius Mertoyudan, Seminari Menengah Wacana Bhakti, dan Seminari Menengah Stella Maris.

Rangkaian acara Teris kali ini diawali dengan audiensi Bersama Mgr. Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta. Mengutip pesan Paus Fransiskus, Mgr. Haryo mengajak para kaum muda untuk bercita-cita menjadi suci. Dalam hal ini, “suci” sama artinya dengan Magis yang berarti semangat lebih dalam menjalani perutusan dan hidup sehari-hari.

Para seminaris yang telah dibagi dalam kelompok-kelompok berangkat menuju Wisma Samadi Klender bersama para frater pendamping. Selama perjalanan di KRL,para seminaris diberi tugas mewawancarai satu orang yang menggambarkan perjuangan di Kota Jakarta yang “keras” ini.

teris kaj 20188Ada dua perlombaan olahraga yang dilombakan, yaitu basket dan futsal. Lewat tim yang terdiri dari seminaris beda seminari ini, mereka dapat saling bekerja sama dan mengenal satu sama lain. Menjadi energi bagi Gereja memang tidak lepas dari dimensi fisik yang perlu juga dilatih agar menjadi calon-calon Imam yang sehat jasmani  dan rohani.

Malam harinya, para seminaris menikmati penampilan Theme Song dari ketiga seminari dan tak ketinggalan penampilan dari para frater TOR (Tahun Orientasi Rohani). Frater-frater seminari tinggi KAJ juga menampilkan sebuah drama musikal singkat yang menampilkan seorang seminaris yang bimbang menentukan panggilan hidupnya. Selesai tampilan, acara yang ditunggu-tunggu pun tiba, yaitu makan-makan bersama. “Kapan lagi makan enak gini di seminari? Itung-itung perbaikan gizi,” ujar Radit, seminaris tahun kedua dari Seminari Mertoyudan.

Input tentang gaya hidup sehat dibawakan oleh Fr. Regi.  Para seminaris diajak untuk memeperhatikan pola hidupnya dengan rajin berolahraga dan makan makanan bergizi. “Sehat itu murah, sakit itu mahal,” ujar Fr. Regi. Fr. Wenan yang juga seorang dokter di RS. Sint Carolus Jakarta juga memberikan pemaparan tentang HIV/AIDS. “98% pengidap AIDS meninggal karena stigma negatif dari orang-orang disekitarnya,” ungkap Fr. Wenan.

Sebelum pulang, para seminaris diajak untuk mengunjungi Wisma Puruhita yang menjadi tempat tinggal para frater TOR KAJ. Harapannya, para seminaris dapat sungguh menyadari panggilan hidupnya masing-masing. Temu seminaris ini juga mempererat persaudaraan dan menjadi teman seperjalanan dalam menapaki jalan panggilan Tuhan. Panggilan itu menggembirakan.

Sebarkan Kebaikan: