“Merasa terpanggil dan mau masuk Seminari saja udah Puji Tuhan, kok masih ada seleksinya ya?”

Pertanyaan itulah yang sering dilontarkan kepadaku saat mempersiapkan diri mengikuti tes masuk Seminari Mertoyudan. Remaja yang memutuskan mendaftarkan diri ke Seminari Mertoyudan mungkin memang tidak sebanyak sekolah-sekolah swasta pada umumnya, tapi hal ini tidak membuat Seminari menerima semua pendaftar. Perlu ada tahapan tes(akademik, intelegensi, fisik, maupun wawancara).

Non multa sed multum

Peribahasa Latin ini kiranya cocok untuk menjelaskan visi dari diadakannya tes masuk Seminari Mertoyudan. Bukan masalah Kuantitas(jumlah) melainkan kualitasnya juga perlu diperhatikan.

Pendaftaran dilakukan dengan mengisi beberapa form yang bisa diunduh di website Seminari(http://seminarimertoyudan.sch.id). Setelah semua berkas sudah dilengkapi, baru mengirimkannya ke alamat Seminari Mertoyudan di bawah ini:

Dibutuhkan perjuangan untuk mengerjakan dan mengumpulkan berkas-berkas yang dibutuhkan, apalagi bagi kalian yang sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan ujian dan tugas-tugas di kelas IX SMP. Harus pintar-pintar bagi waktu dan usahakan agar mendaftar dari jauh-jauh hari, jangan mendadak supaya tidak terburu-buru dan dapat dicicil. BARU DAFTAR AJA UDAH RIBET, APALAGI TESNYA? (Brace urself…)Berikut ini pengalaman tes masuk seminari….

Hari 1- Kamis, 26 JANUARI 2017

tes masuk seminari mertoyudanSiang itu, pukul 10, aku ditemani kedua orangtuaku memasuki gerbang seminari. Setelah daftar ulang di Ruang Tamu DP(Domus Patrum), kami dihantarkan ke Bangsal Kaca untuk mengurus beberapa hal. Ya, aku disambut oleh para ANGELUS(panitia PSB) yang sudah siap di mejanya masing-masing sesuai seksi-seksinya, ada pos Surat dan map, keuangan, valet, DKV, sortir, serta peminjaman sarung dan bantal .

Jangan takut tema-teman, karena setiap kandidat(peserta tes) akan diberi buku pegangan yang memperkenalkan kita dengan kehidupan di seminari dan selama tes berlangsung. Jangan kaget kalau di bagian sortir, buku pelajaran, deodoran, parfum, makanan, dan HP kalian akan disita sementara selama tes. Memang itu peraturannya, jadi mending tidak usah bawa ya….

Setelah menaruh barang-barang di dormitorium(tempat tidur), para kandidat PSB Gel.1 yang berjumlah kurang lebih 120an bergegas makan siang di Refter(ruang makan). Tak ada yang kukenal satu pun disana. Jangan kaget karena kalian pasti merasa canggung untuk ngapa-ngapain selama 3 hari kedepan, setidaknya hal itu paling kurasakan. Mungkin karena memasuki wilayah yang baru dan teman-teman yang belum kukenal.

“Tak kenal maka tak sayang.” Setelah makan siang, kami berdinamika di Bangsal Kaca agar saling mengenal satu sama lain lewat berbagai games, joget, dan nyanyi bersama. Angelus(panitia PSB) menamai diri Angelus Bintang Penuntun dengan jargonnya, “Per Stellam Ad Jesum“. Para Angelus juga sudah siap dengan mars Angelus yang akan dinyanyikan selama 3 hari kedepan.

TES AKADEMIK

Kami pun dibagi beberapa kelompok untuk berkeliling sekitar kompleks Seminari seluas hampir 5,3 ha ditemani para Angelus. Setelah itu istirahat, mandi, dan bersiap mengikuti tes akademik yang meliputi tes Mat, B. Indo, dan B. Ingg. Susah gak tuh? Hmm… bagiku tidak terlalu sulit karena soalnya sudah pernah dipelajari di SMP terutama pelajari soal-soal persiapan UN karena sangat membantu(wah spoiler nih…).

Sesaat setelah aku selesai tes terakhir yaitu  B.Ingg, tiba-tiba darah mengucur deras dari dari hidungku. Aku langsung dibawa keluar dan diberi daun sirih supaya darahnya cepat berhenti. Aku pun menjadi perhatian angelus karena peristiwa berdarah ini. Katanya sih, mereka(para angelus) jarang sekali melihat orang mimisan, jadi mereka panik saat melihatku mimisan, hehehe…. Untung saja aku tidak apa-apa, dan lanjut ke Refter(ruang makan) untuk makan malam.

Uniknya di Seminari yaitu ada renungan malam. Waktu itu kami melakukan ibadat Taize di Kapel Besar yang telah dihiasi dengan kain dan lampu warna-warni sedang lampu utama dimatikan. WAH, rasanya seperti memasuki ruangan surgawi, hihihihi…. Alunan melodi gitar dan organ menusuk keheningan malam pertamaku di Bumi Merto. Pikiran dan hati terguncang menyebabkanku merenung dalam hati:  aku harus berjuang sebaik-baiknya demi panggilanku…

HARI 2 – JUMAT, 27 JANUARI 2018

Para kandidat sudah mengalami hidup layaknya seorang seminaris. Salah satu yang paling sulit bagiku yaitu bangun pukul 4.45 pagi. Jujur saja, bagiku yang biasa bangun pukul 6, rutinitas inilah yang paling terasa berat untuk dilakukan. Bangun tidur langsung mandi dengan air yang luar biasa dinginnya dan bergegas ganti pakaian untuk ikut mengikuti misa pagi di Kapel Besar.

TES INTELEGENSI

Tes intelegensi menjadi agenda utama kami hari ini. Ya, tes inilah yang paling menguras otak dan tenaga. Gimana engga? Tes intelegensi berlangsung dari jam 7.30 sampai 12.30. Wow! Sekedar info, tes intelegensi terdiri yaitu potensi akademik dan tes kepribadian digabung jadi satu rangkaian tes.

Ingat, tes intelegensi berbeda dengan tes IQ biasa. Bentuk-bentuk soalnya bisa dilihat di internet. Ada tes numerik, verbal, mekanik, bangun ruang, vocabularia, dll.  Tes yang paling aku ingat yaitu Pauli tes, yang mengukur kecepatan dan ketepatan dalam menghitung(selengkapnya dapat dicari di internet).  Saat itu aku berusaha menghitung sebaik-baiknya dan berhasil pindah ke lembar kedua.

Trik untuk menghadapi tes intelegensi adalah persiapkan diri sebaik-baiknya dengan makan, istirahat cukup, dan manfaatkan waktu yang diberikan sebaik-baiknya untuk menyelesaikan semua soal. Ingat, jangan ada soal yang terlewat atau tak terselesaikan, percaya diri bahwa aku pasti bisa.

Betapa senangnya ketika jam menunjukkan pukul 12.30, artinya rangkaian tes yang sangat melelahkan ini sudah tamat(begitu juga orangnya, hahaha…). Makan siang sudah menanti. Walau makan tahu tempe, terasa nikmat sekali waktu itu.

Kami juga menjalankan salah satu rutinitas seminari yaitu opera(bersih-bersih). Ada yang unik saat opera di Seminari yaitu mengepel manual dengan tangan. Bermodalkan kain pel dan semangat, aku membersihkan lantai sampai bersih. Menjaga kebersihan lingkungan berarti menjaga kebersihan diri dan hati.

Karena keterbatasan waktu, tes wawancara dimajukan jadi jam 2 siang. Aku bergegas mengganti pakaian rapi, yaitu kemeja batik dan celana bahan. Sebelumnya, kami dikumpulkan dulu untuk pembagian kelompok pewawancara. Setiap kandidat diwawancarai oleh 3 pewawancara berbeda. Kami dibagikan masing-masing sebuah stopmap yang berisikan berkas-berkas persyaratan PSB yang kami kirimkan saat pendaftaran dulu.

TES WAWANCARA

Perasaan grogi, canggung, dan bingung bercampur jadi satu. Kata para angelus, tes wawancara ini paling menentukan loh… Untuk memecah suasana, para angelus mengajak kami ngobrol dan sharing pengalaman di seminari yang mengesan. Giliranku pun tiba.

Pewawancara pertamaku yaitu Sr. Anita, CB. Banyak hal yang berusaha digali dariku, mulai dari keluarga, panggilan, maupun keburukan-keburukanku. Hati-hati saja, biasanya akan ada pertanyaan ‘jebakan‘ yang sulit dijawab. Yang perlu diingat adalah jawabanmu tetap sesuai dengan kuesioner yang telah diisi saat mendaftar ke seminari. Caraku mencairkan suasana yaitu dengan sering-sering tersenyum dan usahakan tetap melakukan ‘eye-contact‘ selama wawancara.

selanjutnya, aku diwawancarai oleh seorang guru, namanya Pak Sapto. Namanya juga guru, pasti tidak jauh dari nilai akademis. Awalnya ia bertanya tentang pekerjaan orangtuaku(basa-basi dulu), kemudian membahas prestasi yang kuraih semasa SMP. Saat ia melihat-lihat kuesionerku, aku ditanya tentang nilai rata-rata tiap semesterku. Mungkin sudah termasuk cukup tinggi, jadi aku tidak ditanya lebih jauh lagi tentang pelajaranku di SMP dulu. Wawancara kedua berlangsung cukup singkat dan entah kenapa saat itu aku optimis dengan hasil wawancaraku dengan Pak Sapto.

Uniknya, ada koperasi makanan keliling. Karena tidak bawa uang, akupun tidak membelinya. Lapar? Ya pastilah… Tapi jangan takut karena angelus sudah menyiapkan Potus(makanan ringan) gratis yang menemani keseruan obrolan kami. Ya, lumayan mengusir rasa grogi juga sih, hehehe…

Tibalah aku di pewawancara terakhir, yaitu Fr. Tino, Pr. Kebetulan di kelompokku, akulah yang terakhir diwawancarai. Sesaat setelah aku masuk ke ruangannya, aku disambut dengan senyuman ramah yang sangat khas. Seketika itu juga aku tahu bahwa ia pribadi yang hangat. Betul saja, perbincangan kami mengalir begitu saja seperti sudah akrab padahal baru pertama bertemu. Ia adalah frater KAJ yang sedang menjalankan masa TOP(Tahun Orientasi Pastoral) di seminari Mertoyudan dengan menjadi sub-pamong Medan Utama(seminaris tahun ke-4). Ternyata ia tahu banyak tentang Cikarang. Ia pernah diajak ke pastoran dan berkeliling ke lingkungan-lingkungan oleh Rm. Samuel, romo parokiku dulu.

Setelah cerita-cerita, barulah aku ditanya tentang panggilanku(mulai serius nih..). Aku bercerita tentang awal mula keinginanku menjadi seorang Romo. Untung aku sudah menyiapkan sebuah cerita riwayat panggilanku yang berawal dari kelas 5 SD saat guruku secara spontan mengungkapkan bahwa aku cocok untuk menjadi seorang romo. Kalau aku ceritakan pengalaman panggilanku, mungkin kepanjangan ya, hehehe…. Intinya, utarakan dengan jelas dan apa adanya, jangan dibuat-buat.

“Apakah benar kamu ingin menjadi seorang romo?” pertanyaan sederhana yang membutuhkan niat yang bulat untuk menjawabnya. Aku pun balik menjawab dengan mantab: “iya, frater.”

Akhirnya, selesai juga wawancara yang sangat menentukan ini. Aku merasa lega(plong) bisa menyelesaikan wawancara dengan baik. Segala kegalauan dan pergulatanku rasanya hilang sudah. Aku telah menetapkan bahwa aku memang ingin memperjuangkan panggilanku dengan serius. Aku ingin mengolahnya, walau berat dan tak mudah. Semangat dan tekad bulat itu muncul begitu saja. Semakin kulawan dorongan itu, semakin Tuhan menarikku untuk kembali kepada-nya dan menanggapi panggilan-Nya.

Setelah semua wawancara selesai, kami pun berekreasi bersama menghilangkan penat, yaitu dengan nonton film bersama di Bangsal Kaca. Ditengah-tengah film, dibagikan selembar koran ke beberapa tempat. Aku tidak mengerti ada apa. Ternyata, koran itu untuk alas potus(makanan ringan) yang melimpah ruah. Ini sudah menjadi kebiasaan di seminari saat nonton film. Berjuang boleh, tapi jangan lupa bahagia ya :’)

HARI 3 – SABTU, 28 JANUARI 2017

Apa saja yang dilakukan di hari terakhir ini? Ya, tinggal satu agenda lagi yang harus diselesaikan yaitu tes fisik. HAH? Tes apa lagi ini…. Udah otak capek, sekarang badan dibuat capek. HADEH…

TES FISIK

Tes fisik dibagi menjadi 2 tes yaitu lari 100 m dan lari keliling lapangan selama 8 menit. Sebelum mengikuti tes fisik, semua kandidat dicek tensi, berat dan tinggi badan, cek mata, dll. Tiba giliranku untuk tes lari 100 m. Puji Tuhan aku menjadi yang tercepat dalam kelompokku.

Aku cukup optimis karena sudah sering latihan lari keliling komplek rumah. Aku yakin bisa 10 putaran. Ternyata, lapangan seminari luas bangettt. Kenyataannya aku hanya mampu lari 4,5 putaran. Tapi gak papa, yang penting sudah mengusahakan yang terbaik, tapi ingat tidak boleh memaksakan demi kesehatan juga ya…

Ketika panas-panasan dan kecapekkan, bayangkan betapa segarnya segelas sirup dingin menyejukkan tenggorokanmu. Tidak cukup sampai tes fisik saja, kami juga olahraga bersama para angelus. Aku kebagian olahraga sepakbola. Senang sekali dapat menutup rangakaian PSB gel.1 ini dengan berolahraga dan bergembira bersama.

Ada beberapa hal yang disampaikan oleh pihak persekolahan. Setelah mengetahui hasil pengumuman(biasanya 1 minggu setelahnya), para kandidat yang telah diterima diharapkan langsung melakukan medical Chek-up(tes kesehatan) di rumah sakit terdekat. Bagi yang tidak diterima, tidak perlu. Setiap kandidat akan diberi surat yang menjadi pengantar check-up. Nantinya, hasilnya dikirimkan kembali ke pihak Seminari dan barulah seorang kandidat secara resmi diterima sebagai seorang seminaris tahun ajaran depan.

PEMAKNAAN

Tibalah waktu pemaknaan 3 hari berdinamika bersama di Seminari. Seto, Ketua Angelus Bintang Penuntun, membacakan refleksinya didepan kami semua. Intinya merangkum kebersamaan kami semua. Angelus ibarat Bintang Penuntun yang mengarahkan, mendampingi, dan melindungi para kandidat dalam menjalani dinamika kandidatan.

Sebelum pulang, para angelus yang tergabung dalam orkestra Seminari(Canista) membawakan beberapa lagu persembahan untuk kami. Terakhir, ditutup dengan mars Seminari dan foto bersama.

Begitulah kurang lebih proses penerimaan seminaris baru. Jalanin aja, jangan dibawa beban dan jangan lupa selalu berserah kepada Tuhan. Percayalah, jika memang ini benar-benar kehendak-Nya bagimu, Ia akan tunjukkan jalan yang terbaik.(CEL)

quotes rohani kristen

 

 

 

Sebarkan Kebaikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *