UGM FEBulous RUN 2019

Inilah perwakilan seminari Mertoyudan pada UGM FEBulous RUN 2019

Para seminaris (MT, MM, MU) didampingi Fr. Sonny , Pr dan Fr. Danang, SJ bersiap untuk mengikuti UGM FEBulous RUN 2019 yang diadakan pada Minggu (22/9) lalu. Sesuai undangan panitia, Seminari Mertoyudan mengirimkan perwakilannya pada lomba lari kategori 5 Kilometer yang dimulai pukul 06.15 WIB. Sejalan dengan namanya, acara lari yang mengangkat slogan “The First Jogja City Run” ini diadakan di kawasan FEB (Fakultas Ekonomi dan Budaya) Universitas Gajah Mada, Jogjakarta. Start/Finish Gate terletak di sebelah Barat Graha Sabah Pramana.

Menurut Ketua Panitia T.R. Batara dalam kata sambutannya, gelaran lomba lari yang mengangkat nilai sejarah kota dan budaya dengan rute melintasi lokasi-lokasi legendaris ini diharapkan dapat menjadi salah satu destinasi loba lari sarat unsur budaya, yang diminati pelari dalam dan luar negeri. Tugu Jogjakarta, Jalan Malioboro, Benteng Vredeburg, Istana Presiden, dan Kampung Pecinan Ketandan adalah sebagian dari Jogja Heritage yang dilewati peserta lari.

Catatan Terbaik

Total peserta yang tergabung dalam kategori 5K yaitu sebanyak 956 orang. Menurut data hasil pencatatan skor pada laman resmi UGM FEBulous Run 2019, juara pertama ditempati oleh Yanuar Prihantoro. Untuk perwakilan seminari sendiri, catatan terbaik dibukukan oleh Dionisius Giovani Deramzes Fallo (MM) dengan catatan waktu 22 menit 48 detik (peringkat 27). Setelah itu, disusul oleh Iridious Yuhan Felip A.P. (MM) dengan waktu 24 menit 31 detik (peringkat 39). Posisi tercepat ketiga diraih oleh Christofer Edgar Liauwnardo (MM) dengan durasi waktu 26 menit 35 detik  (peringkat 61. Berikut ini perwakilan seminari lainnya beserta peringkatnya  berturut-turut: Clemens Deo (64), Dominic (71),  Aven (119), Fr. Danang (180), Sinar (188), Kevin (223), dan Fr. Sonny (280). Semua perwakilan seminari berhasil meraih medali finisher.

FEBulous Run terbagi menjadi tiga kategori perlombaan, yaitu 2,5K; 5K; dan 10K. Setiap perlombaan memiliki  flag off (waktu dimulainya lomba) dan cut off time (batas maksimal pencatatan waktu) masing-masing. Untuk kategori lomba 5K, flag off dilakukan pada pukul 06.15 dengan cut off time 1,5 jam.Tak perlu khawatir, setiap peserta sudah dibekali dengan racepack yang terdiri dari energy bar, obat-obatan, race guide, sling bag, kaos, dan nomer peserta perlombaan.

Terdapat gradasi usia yang sangat beragam dalam penyelenggaraan FEBuolous Run. Mulai dari pelajar SD, SMP, SMA, Mahasiswa, sampai lansia, semua tampak antusias dalam menyelesaikan rute lari. Lomba ini terbuka bagi WNI dan WNA dengan dua kategori usia, yaitu umum/non master (< 45 tahun) dan master (≥ 45 tahun). Selain peserta mandiri, lomba turut dimeriahkan oleh peserta lain yang datang dari berbagai kelompok lari (runners) dan instansi pendidikan di Jawa Tengah dan sekitarnya.

Beat Yourself!

Ini adalah pengalaman pertamaku dalam mengikuti lomba lari. Aku kaget juga bisa menjadi peringkat 61 dari 900-an peserta, awal yang baik untuk seorang pemula. Mungkin, ini juga disebabkan oleh kebiasaanku setiap sore yaitu mengelilingi lapangan bola Seminari Mertoyudan yang katanya berskala liga 3 sepak bola itu. Gak lama-lama, maksimal 20 menit tapi rutin setiap sore (kalo gak mager). Motivasi awalnya sih biar bisa olahraga bentar tapi keringet banyak dan bikin sehat juga. Aku mulai jatuh cinta pada lari sejak sebelum masuk seminari, tapi dulu tujuannya untuk pengurusan badan (harap maklum) hihihi…

Setiap pelari harus menemukan motivasinya masing-masing  dalam berlari mencapai garis finis. Bagiku, hal yang tersulit adalah mengalahkan diri sendiri. Dialah musuh terbesarku, bukan pelari-pelari di depan atau di belakang yang membuntutiku.

Aku  menemukan nilai daya juang dan totalitas dalam berlari. Itu pula yang kujadikan semangat dalam menjalani hidup panggilan ini. Jalan panggilan yang kutempuh bukanlah lomba lari jarak pendek‒100 meter misalnya‒, melainkan sebuah marathon (> 42K), ultra run (250K), atau bahkan sebuah trek panjang yang tidak pernah kuduga kapan selesainya. Semua itu butuh ketekunan, kesetiaan, ketaatan pada sang pengatur rute, dan keselarasan dengan alam tentunya.

Berpikir positif juga menjadi sebuah modal yang fundamental bagi seorang runner. Saya tidak peduli seberapa banyak orang yang menyalip saya, atau saya berada di posisi mana, yang terpenting adalah saya tidak tersusul oleh kemalasan, apalagi emosi yang overwhealmed. Akhirnya, aku bisa menaklukan diri sendiri…(EDG)

Baca berita selengkapnya di Koran Jendela (koran Seminari Mertoyudan) edisi 116 September 2019.

Sebarkan Kebaikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *